Rangkuman Kajian Jum'at Malam, 19 Agustus 2016


Jumat , 30 September 2016


Pesantren Akmaliah Salafiah
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

Mualif mengatakan :

"Mungkin kalian/engkau mendapatkan keistimewaan kelebihan karunia dari Allah SWT pada saat menerima ujian dan cobaan, belum tentu mendapatkan karunia dan anugerah seperti yang ada pada ujian dan cobaan seperti saat melaksanakaan shalat dan puasa"

Oleh karenanya ujian dan cobaan disebut karunia dan anugerah. Bagi para salikin disebut sebagai ied/hari rayanya/kembalinya seorang salikin. Kebanyakan orang umum idul fitri merasa senang dan bahagia. Mari sikapi ujian dan cobaan sebagai anugerah dari Allah SWT karena setiap ujian dan cobaan ada hikmahnya baik lahir maupun bathin.

Contoh :
- Orang yang mendapatkan ujian sakit kemudian sabar maka secara tidak langsung kalian telah dibersihkan dosa-dosanya. Jika sengaja taubat, belum tentu mendapatkan kebersihan seperti sabarnya saat sakit. Berbeda dengan orang yang sakit namun marah-marah maka akan bertambah dosa.

Sikapi ujian dan cobaan dalam menghadapi rumah tangga atau apapun jika menerimanya dalam kehidupan dengan legowo dengan tauhid dan hakekat bahwa semua didatangkan oleh Allah SWT atas dasar cinta kasih Allah SWT. Jika sudah terlanjur salah melangkah maka jangan putus asa. Jika telah mengetahui bahwa langkah yang diambil salah maka harus memperbaikinya. Jangan merasa sudah berbuat maksiat lalu berkata "ya sudahlah, saya sudah maksiat" tetapi taubatlah.

Dalam menghadapi ujian dan cobaan jangan menyikapinya dengan nafsu. Untuk menuju kepada Allah harus bersih lahir dan batin baik sikap hati dan jiwa juga berbusana syariat yang baik dan bagus yang bisa dijadikan uswah/contoh. Jika ingin menuju kepada Allah SWT namun syariatnya tidak benar dan hanya mengandalkan hakekat maka tidak mungkin sampai kepada-Nya. Jangan terpesona dengan para aulia atau orang khusus yang keluar dari kebiasaan (bagi khalayak) karena mereka mempunyai dimensi lain/multidimensi. Bukan mereka meninggalkan syariat, namun telah melakukan syariat pada dimensi lain, sehingga mereka menjadi ujian dan cobaan bagi kalian.

Contoh :
- seperti nabi haidir terhadap musa.

Jika lulus dalam ujain dan cobaan yang diberikan oleh Allah SWT maka akan mendapatkan derajat khusus. Ujian dan cobaan di dunia ini ada dua yaitu keburukan dan kebaikan.

Qs. Al Anbiya : 35

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Dalam menghadapi ujian keburukan banyak orang yang terjepit dan menjadi dekat dengan Allah SWT dan banyak juga orang yang semakin jauh dari Allah SWT. Ada juga orang yang mendapatkan ujian kebaikan/kenikmatan namun malah menjadikannya menjauh dari Allah SWT dan sedikit yang mendekat kepada Allah SWT. Banyak yang durhaka kepada Allah SWT karena banyak menerima fasilitas dunia, baik harta maupun kesehatan. Banyak juga yang sakit namun dekat kepada Allah SWT.

Jika dalam menghadapi ujian dan cobaan tidak lulus sampai pada sakratul maut maka akan mengadapi ketakutan saat sakratul maut karena ujian dan cobaan sabagai awal permulaan untuk mengadapi sakratul maut. Jika ingin mendapatkan keistimewaan dari Allah SWT maka harus menghadapi ujian dan cobaan, jangan mengeluh saat mengadapi ujian dan cobaan. Tidak ada sesuatu apapun yang Allah SWT turunkan dengan sia-sia. Tatkala diuji dan dicoba jangan memandang hanya satu ke dalam diri kita saja tapi pandanglah secara keseluruhan yang sesungguhnya ada kepentingan lain di dalamnya, seperti halnya saat sakit maka Allah SWT hendak memberikan rizki kepada dokter, apoteker. Semua merupakan proses dari rangkaian ekosistem. Jika sulit memandang secara tauhid maka pandangkan bahwa ujian dan cobaan merupakan rangkaian dari ekosistem (anugerah lahiriah). Kemudian tatkala mendapatkan ujian dan cobaan teruslah menekankan diri bahwa Allah SWT sayang terhadap kita agar kita selalu mengingat-Nya. Apabila mengadapi ujian dan cobaan dengan ikhlas dan ridho maka akan tambah membersihkan jiwa (anugerah batiniah).

Berbagai macam ujian dan cobaan itu bagaikan hamparan hidangan dari Allah SWT. Jika engkau ingin ada datangnya pemberian karunia dari Allah SWT kepadamu maka bersungguh-sungguhlah dalam mengakui pembuktian kehambaanmu, yaitu kemiskian, kebutuhan, kerendahan kepada-Nya.

Ujian dan cobaan itu untuk menyadarkan diri kita mengenai "Allahu somad" bahwa kita bergantung kepada Allah SWT. Bahwa manusia itu golongan yang lemah, banyak kekurangan sampai benar benar faham bahwa manusia tidak memiliki apa-apa. Jika manusia merasa kaya, sehat, mampu, tidak ada kekurangan maka Allah SWT tidak akan memberikan ujian dan cobaan. Menghambalah hanya untuk Allah SWT. Jadikan diri kalian mutlak milik Allah SWT. Buktikan kalimat yang kalian ucapkan seperti dalam QS. Al An'am : 162

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Yang Artinya kita tidak mempunyai apa-apa yang berarti masuk dalam golongan fakir miskin dihadapan Allah SWT. Jika telah merasa fakir miskin maka Allah SWT akan memberikan anugerah lahir dan batin sehingga mendapatkan berkah lahir dan batin sepanjang perjalanan hidup dari dunia sampai akhirat.


Dirangkum oleh : Himmah Hizboel⁠⁠⁠⁠