Patuh Pada Kehendak-Nya


Sabtu , 24 September 2016


Banyak orang memaknai kepatuhan pada Allah diwujudkan dalam bentuk diam alias pasif. Padahal nilai kepatuhan seorang hamba justru terletak pada usaha dan ikhtiar yang dilakukannya, disertai kesadaran penuh bahwa segala usaha dan ikhtiar itu sesuai dengan kehendak Allah.

“Kehendakmu tajrid, padahal Allah masih menempatkanmu pada asbab, maka keinginanmu itu termasuk dari syahwat yang tersembunyi. Dan kehendakmu untuk asbab, padahal Allah telah menempatkan dirimu pada tajrid, maka keinginan yang demikian turun dari himmah (semangat) yang tinggi.”

Secara harfiah Tajrid artinya diam, asbab artinya usaha atau ikhtiar. Orang-orang ahli tasawuf memaknai tajrid ialah diam dan berpaling dari segala urusan dunia, baik yang mengikat hati maupun jiwa, berlanjut pada ritual khalwat dan suluk. Diam yang dimaksud bukan berarti pasif melainkan diam aktif.

Ragam Kehendak
Pengkajian masalah ini bermuara pada pengertian Iradat (kehendak). Maka jika dipilah-pilah Iradat itu ada tiga : Iradatut thabi’, Iradatut tamanna dan Iradatul haq.

1. Iradatut Thabi’ artinya: kehendak tabiat, ini adalah kehendak bagi kebanyakan orang awam yang ta’aluq (identik) pada bahagian nafsu dan keluar dari iradat ini adalah wajib. Sebab, manakala manusia telah dikendalikan oleh iradatut thabi’, maka ekspresi tabiatnya cenderung tamak, loba dan rakus dengan peranti kehidupan dunia.

2. Iradatut Tamanna artinya: kehendak cita-cita yang positif seperti berharap karunia-Nya, ini adalah kehendak bagi segala orang yang ahlut tawajuh, yaitu orang yang bersungguh-sungguh dan sengaja mendekatkan diri kepada Allah dengan cara melakukan berbagai ibadah formal, sebagaimana kebiasaan para salikin yang mendambakan karunia-Nya.

3. Iradatul Haq artinya: kehendak yang benar, maksudnya kehendak yang sealur dengan Allah, ini adalah kehendak yang bertolak dari motivasi ikhlas. Dan hakikat kehendak ini, menyucikan sesuatu yang melekat di kalbu, seperti mencintai sesuatu selain Allah. Juga membersihkan akidah dari najis syirik jali maupun khafi. Yang dimaksud syirik khafi pada masalah ini ialah: “Menjadikan iradat itu serta Allah atau melihat ada wujud selain Allah”.


Asbab

Jika seorang hamba telah ikhlas dari segala penyakit berpaling, dan telah menafikan hukum maksiat, maka jadilah serta Allah (tidak dengan keadaan atau kaun).

Karena itu, apabila Allah telah menetapkan seorang hamba berada di posisi asbab, maka jangan ada keinginan untuk keluar dari asbab (kepada tajrid), karena keinginan semacam itu hanya muncul dari desakan syahwat yang tersembunyi dibalik nafsu (baca: jiwa).

Di katakan desakan syahwat, karena tidak berpijak pada kehendak Allah (keinginan syahwatnya selalu menyalahi kehendak-Nya). Dan yang dimaksud tersembunyi, karena secara lahiriah terlihat ingin keluar dari penjara nafsu. Tentunya keinginan semacam ini yang dipuji dan dikehendaki Allah. Namun pada persoalan ini harus dipahami dengan cermat dan cerdik. Idealnya, keinginan dan kehendak itu harus mendapat rida Allah, bukan hanya menuruti keinginan nafsu belaka. Karena kehendak yang diridai Allah berpijak pada titian yang dikehendaki-Nya.

Banyak para salikin (orang yang berjalan menuju Allah) yang "mabuk" dalam mengkaji dan mengamalkan ilmu agama (tauhid), sehingga lupa pada kewajibannya sebagai seorang hamba. Tak sedikit orang yang meninggalkan keluarga dan pekerjaan, bahkan ada pula yang sampai meninggalkan Syariat Islam seraya berdalih: "Untuk mencapai ma'rifah harus menempuh tajrid."

Pandangan dan pendapat itu sangat keliru, bahkan dapat menjadi hijab menuju kepada-Nya, sebab anggapan itu hanya muncul dari lintasan nafsu yang tersembunyi. Memang realitanya tampak seolah-olah baik dan benar, terlebih bila menyimak kisah perjalanan Nabi Ibrahim as.: Beliau pernah meninggalkan Hajar (istrinya) dan Ismail as. (anaknya) yang masih bayi di tengah gurun sahara tanpa bekal apapun, karena menjalankan perintah Allah. Perjalanan tersebut harus dipahami betul maksud dan tujuannya (sesuai kehendak Allah), agar tidak salah penafsiran. Karena tidak sedikit orang yang bergegas menuju Allah, justru dengan cara meninggalkan Allah.

Pada hakikatnya, Allah menghendaki hamba-Nya berjalan di atas kehendak yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagaimana Dia telah menempatkan asbab, maka jangan berkeinginan untuk keluar dari asbab menuju tajrid. Tunggulah sampai Dia memberikan “isyarat” dengan tanda-Nya yang meliputinya, sebagaimana Dia telah menempatkan asbab dengan tanda-Nya pula. "Engkau punya kehendak, Aku juga punya kehendak. Tak ada kehendak, selain kehendak-Ku. Jika engkau mengikuti kehendak-Ku, niscaya Aku akan memberimu yang sesuai dengan kehendak-Ku, Jika engkau tak mau mengikuti kehendak-Ku, maka Aku akan menelantarkanmu (menyesatkanmu) sesuai dengan kehendak-Ku pula." (Hadis Qudsi).

Bila seseorang telah paham bahwa Allah menempatkan dirinya pada posisi asbab, kemudian berkehendak untuk tajrid, maka kehendak itu adalah desakan nafsu yang tersembunyi. Karena disadari atau tidak, lintasan yang mencuat dari dalam jiwa (adanya rasa ingin dianggap sebagai orang yang zuhud terhadap dunia), maka rasa itu adalah sebagai pertanda datangnya dari nafsu. Kendati gejolak rasa ini tak akan diketahui dengan jelas bahwa hal itu dari nafsu, kecuali bagi orang ahlul ‘inayah (orang yang bersungguh-sungguh). Kaum sufi menjelaskan ahlul ‘inayah adalah orang-orang yang mendapat 'inayatullah (pemeliharaan Allah). Yakni orang yang mendapat anugerah pemeliharaan Allah dari segala kesalahan lahir maupun batin.

Pada dasarnya semua syahwat itu muncul dari nafsu, baik dalam arti syahwat duniawi maupun ukhrawi. Dalam pandangan tauhid, semua kehendak yang didasari nafsu itu tidak baik, meski menurut kacamata yang lain dianggap baik sekalipun. Waspadailah kehendak nafsu, yang datang silih berganti mempengaruhi ketenangan hati.


Tajrid

Di sisi lain, jika Allah telah menempatkan dirimu di dalam tajrid, lalu engkau berkehendak keluar dari tajrid kepada asbab, maka sikap semacam itu hanya ada pada orang yang kurang himmahnya dan jahat adabnya.

Sudah selayaknya para salikin memahami sikap dan sifat orang yang thariq. Sebagaimana tajrid bagi orang yang ahlut thariq ialah menafikan keadaan (akwan) yang ada di sekitarnya, dan berusaha sesuai kehendak-Nya. Hal tersebut dilakukan dalam rangka membersihkan hati dari kotoran yang berupa angan-angan kehidupan dunia maupun akhirat. Ini adalah martabat yang tinggi dari para hamba Allah yang istimewa (khoash), yang biasa disebut sebagai Arifin Billah atau Waliyullah.

Maka bila Allah menempatkan pada martabat yang istimewa, jangan punya kemauan untuk turun ke martabat yang lebih rendah dari tingkatan khoash, seperti dari tajrid turun ke asbab. Sebab asbab diperuntukkan bagi para ahlul bidayah (para pemula) yang salik, seiring bersungguh-sungguh menyengaja, sebagaimana ihwal ahlut tawajuh. Lain pula tajrid yang menjadi tilam para ahlul muajahah yang washol kepada-Nya setara ahlul jadzab. (Tawajuh artinya berhadap, washol artinya sampai dan jadzab artinya ambilan).

Maka maksudnya, bahwa orang-orang yang senantiasa menghadap kepada Allah serta sampai dengan benar, hal itu adalah atas dasar hidayah atau ambilan dari Allah. Bukan semata-mata atas hasil usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, jika ada orang yang berkehendak kepada asbab, sementara berada pada derajat tajrid, maka sama dengan turun dari himmah yang tinggi. Karena kedudukan tajrid adalah ambilan Allah (jadzab) tanpa wasithoh (perantaraan) apapun, sedangkan asbab itu usaha dan ikhtiar dalam menuju kepada Allah, layaknya kebanyakan para ahli zikir. Sebagai misal, orang yang tajrid berkehendak kepada asbab ialah seperti hamba yang diberi busana kehormatan oleh raja, lalu dijualnya dan digunakan untuk modal dagang atau usaha, sementara fasilitas kehidupannya telah dicukupi oleh raja.

Perumpamaan lain untuk masalah ini (orang yang tajrid dan asbab) seperti dua hamba raja yang memikul tugasnya . Yang pertama disuruh diam di istana untuk melayani dan menerima para tamu raja, mengenai segala kebutuhan dan keperluan hidupnya telah dicukupi oleh raja. Yang kedua ditugaskan untuk mengelola sawah ladang dan memakmurkan masyarakat, masalah kebutuhan serta keperluan hidupnya boleh mengambil dari hasil sawah ladang dan sebahagiannya harus diupetikan kepada raja.

Dua hamba raja tersebut saling melirik, sedepa pandang mata kehidupan seraya merayu jiwa, rabung dengan khayal menyelimuti mata hati. Yang pertama bergumam: ”Alangkah merdekanya jika dapat menentukan sikap hidup sendiri dan sekaligus menikmatinya”. Begitu pula yang kedua berkata dalam hati: ”Huh, betapa tidak adilnya sang raja dalam membagi tugas. Kenapa harus dia yang diam di istana, sementara tanpa susah payah kehidupannya telah tercukupi”. Kemudian tanpa sepengetahuan raja, dua hamba mengadakan persekongkolan bertukar tugas.

Maka, bagaimanakah sikap sang raja? Tentu sang raja sangat marah kepada keduanya, karena dianggap tidak mematuhi titahnya. Dan bentuk marahnya bisa bermacam-macam. Misalnya, bisa jadi yang pertama dikeluarkan dari istana dan yang kedua dicabut wewenang mengelola sawah ladangnya.


Kehendak-Nya

Namun bagaimanakah kira-kira sikap Allah (sang Maha Raja) ketika hamba-Nya tidak patuh pada kehendak-Nya? Sebaiknya kita tidak sibuk menduga-duga. Sebagai hamba yang baik, yang harus di lakukan hanyalah mematuhi segala ketentuan-Nya. Karena Dia punya kehendak untuk menentukan kehendak-Nya sesuai dengan apa yang Ia kehendaki. Dan hanya Dia-lah yang Maha Tahu, apa yang baik dan tidak baik untuk hamba-Nya.

Demikianlah contoh orang yang tajrid menghendaki asbab atau sebaliknya. Allah tidak rida terhadap dua kehendak yang tidak berpijak pada kehendak-Nya. Maka setiap keinginan yang tidak relevan dengan kehendak-Nya adalah konsep nafsu (tadbir) bagi yang belum tahqiq taqdir (memahami takdir Allah pada dirinya). Sebab bagi yang telah sampai pada pengertian tahqiq taqdir, tentu ia akan mengacu pada firman Allah yang menyatakan:

“Katakanlah: Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman bertawakal”. (At Taubah: 51).

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al-Imraan: 191).

Yang kerap menjadi persoalan para salikin dalam konsep ini ialah keinginan mengetahui apa yang menjadi kehendak Allah untuknya. padahal seyogianya para salikin tidak membuang waktu untuk hal tersebut. Tapi cukuplah para salikin menjalani kehidupan di tengah masyarakat dengan segala hiruk-pikuknya, tak ubahnya seperti air yang mengalir menuju lautan. Dan tidak sibuk pula membandingkan kehidupannya dengan kehidupan orang lain. Karena biasanya “rumput di halaman tetangga selalu terlihat lebih hijau.” Dengan demikian, lambat laun akan mengetahui kehendak Allah yang menjadi pijakan dalam perjalanan menuju kepada-Nya.