Rangkuman Kajian Jum'at Malam, 22 September 2017/03 Muharam 1439H


Sabtu , 23 September 2017


Bahwa nikmat itu memang beraneka ragam bentuk rupanya. Hanya semua itu disebabkan oleh kalian semua atau kita semua yakni melihat dan dekatnya kepada Allah SWT. Demikian pula penderitaan walau bagaimanapun banyak rupa bentuk penderitaan semua itu karena diri kalian masih terhijab dari Allah SWT. Karena yang menyebabkan penderitaan itu ialah keberadaan hijab pada dirimu sedangkan kesempurnaan nikmat yang kalian rasakan itu hasil atau buah dari kalian memperhatikan, melihat atau memahami keelokan zat wajibul wujud yaitu Allah SWT yang sangat mulia. Itulah penafsiran Bapak untuk kalian yang Insya Allah tidak melenceng/menodai dari maksud dan tujuan mu'alif yang menulis tentang hikmah tersebut yakni seperti beliau menjelaskan beberapa kalam hikmah syarah Hikam Ibnu Athoi'llah yang terkadang sulit untuk dijelaskan terlebih lagi bagi oleh orang orang yang tidak berada pada wilayah tersebut. Sebagaimana analogi anak SD yang disuruh menjelaskan ilmu pelajaran anak SMP/SMA. Tetapi ini adalah masalah hidayah yang sebenarnya tidak ada istilah leveling namun lagi lagi maqom dan derajat itu terkait erat dengan pengertian dan pemahamannya. 

Oleh karenanya pada saat Allah SWT memberikan berbagai macam kenikmatan kepada kalian seperti iman dan islam yang mengalir pada diri sehingga tanpa sadar dapat menyerap, memahami, "dapat mengunyah" hingga masuk ke dalam diri makanan dan minuman hakekat semua karena anugerah nikmat dari Allah SWT. Beraneka ragam nikmat tersebut mengalir pada diri kita macam rupanya dan nyaris kita tidak bisa menghitungnya.

‎وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An Nahl: 18).

Contoh: 
Nikmat hidup. Rasanya sulit untuk menghitung nikmat nikmat teesebut. Namun kebanyakan manusia menghitung nikmat itu yang dapat dinikmati langsung dalam bentuk material atau sesuatu yang datang ke diri dengan media tertentu. Contoh :

  • Manusia merasa nikmat jika dicintai suami/istri

  • Mendapat rejeki

  • Dianggap orang

Kebanyakan orang awam nikmat itu pada batasan wilayah lahiriah yang membutuhkan media yang mengalir pada diri sehingga akan disebut nikmat dari Allah SWT. Padahal jika dihitung nikmat Allah SWT maka akan susah dihitungu. Oleh karenanya Allah SWT langsung menekankan dalam firmannya QS. Ar Rahman :

‎فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat tersebut sebagai tanda banyak orang yang mendustakan nikmat Allah SWT yang tidak terasa padahal banyak nikmat yang mengalir dalam diri. 
Contoh : 
Nikmat aliran darah. Di dalam darah ada banyak rahasia itulah sebab darah tidak bisa dibuat oleh manusia. Di dalam darah ada inti dan sumber darah yang menyembur dari jantung yaitulah ruhul hayat yang mengalir mengikuti darah. Dan di dalam darah itu pun ada sifat sifat dari 7 tingkatan nafsu. Yang perlu diketahui bahwa darah terjadi dan jadi melalui proses min sulalah min tin yaitu dari sari pati tanah. Penyerapan sari pati tanah bukan sebatas penyerapan dari makanan minuman yang dahsyat dalam diri dimana ada pembagian sari rasa itu. Jika sari rasa tidak normal sedikit saja maka akan menjadi persoalan. Satu saraf tidak benar saja maka pembagian sari rasa yang masuk ke dalam diri dan yang menutrisi menjadi tidak stabil dan akan menjadi persoalan. Bersyukurlah tatkala kita ini normal. Sekecil apapun syaraf tetap dapat dialiri darah. Syaraf dalam manusia fungsinya yaitu sebagai penghubung antara satu dengan lainnya dimana perintah akan dijalankan. Lalu siapa yang memerintahkan? Rasa merupakan tombol-tombol perintah dan kalian bisa mengendalikan tombol tersebut. Karena ada rasa itulah kalian bisa mengendalikan tombol tersebut. Seperti ada rasa ingin pipis namun bisa ditahan. Jika tombolnya mati dan tidak bisa dikendalikan maka penyakit resikonya. Itulah dahsyatnya rasa dan itu baru sepersebagian rasa yang kita terima dari Allah SWT.

Orang yang bisa melihat nikmat Allah SWT ini hanya orang orang yang syuhud yang tidak 'terhijab' sehingga ia mampu melihat beraneka ragam nikmat Allah SWT hingga nyaris tidak bisa menghitung nikmat dari Allah SWT.

Buang air besar dan buang air kecil itu pun nikmat dari Allah SWT. Ini baru hal-hal lahiriah. Hanya orang yang dekat dan mendekatkan diri dengan Allah SWT atau orang orang yang syuhud yang memandang semua kembali kepada Allah SWT yang dapat melihat semua nikmat dari Allah SWT. Syuhud itu bukan berarti hanya sebatas "itu perbuatan Allah SWT" namun melalui tahapan dengan kalimat "semua dari Allah" baik fasilitas di dalam maupun di luar diri.

Fasilitas di luar diri dimana Allah SWT menciptakan seluruh yang ada di muka bumi sebagai fasilitas manusia baik yang dapat dinikmati secara langsung maupun yang melalui proses maupun dimana Allah memberikan kecerdasan/gharizah hingga sampai kepada fikir. Allah SWT menjelaskan mengenai apa yang ada di muka bumi ini sampai sampai Allah SWT mengatakan makan dan minumlah yang ada di muka bumi ini yang terpenting jangan tusyrifu dan apa yang diharamkan itu ditinggalkan kecuali dalam keadaan dhoruri. Jika dhoruri sesuatu yang haram akan menjadi halal. Banyak lagi fasilitas-fasilitas yang Allah SWT berikan. 

Apakah kita masih juga belum bisa melihat atas fasilitas-fasilitas yang Allah SWT berikan? Maka dari itu cobalah syuhud dan dekatkan diri kalian kepada Allah SWT. Pendekatan diri kepada Allah SWT jangan berimajinasi melainkan dengan mensyukuri apa yang diberikan oleh Allah SWT dengan syuhud yaitu memandang semua dari Allah SWT. 

Mengapa kita tidak jijik memakan telor ayam, daging sapi, ayam, ikan lele? Karena Allah SWT menutup rasa tersebut. Jika Allah SWT tidak menutup rasa jijik, maka kita tidak akan bisa memakan makanan-makanan tersebut. Oleh karenanya jangan kalian perhitungan dengan Allah SWT jika sudah dipanggil oleh-Nya karena semua itu dari Allah SWT. Jika kalian tidak syuhud maka akan ada azab. Azab berarti penderitaan dalam arti apa saja.
QS. Ash Shaff : 10-12
 

10.

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?

11.

‎تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

12.

‎يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar.

Perniagaan itu dapat melepaskan kamu dari azab yang sangat pedih di dunia. Bagaimana caranya?

  1. Beriman kepada Allah SWT dan beriman kepada Rasul-Nya. Percaya harus ditanamkan dalam berbagai segi kehidupan. Allah SWT sudah mengajarkan kepada hamba hamba-Nya mengenai kepercayaan melalui nabi-Nya. Sistem apapun tidak akan jalan jika tidak ada kepercayaan atau iman. Iman dalam arti kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan Mursyid-Nya. Jika sudah percaya maka akan muncul zhon-zhon yaitu husnuzhon. Jika kepercayaan itu luntur maka zhon-zhon itu berbalik menjadi suuzhon dan jika sudah suuzhon maka akan menjadi azab karena suuzhon itu akan menjadi hijab sedangkan husnuzhon akan terbuka dan mendekatkan kepada Allah SWT dan memudahkan syuhudnya

  2. Berjuang di jalan Allah SWT dengan harta dan dirimu. Jika tidak bisa harta ya dengan diri, begitu pula sebaliknya. Dan lebih istimewa lagi bila keduanya. Jika tidak bisa antara keduanya, maka bukan hidup karena hidup itu perjuangan. Jika tidak berjuang maka itu bukan hidup.

Allah SWT menyatakan "Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui". Orang-orang semacam ini diistimewakan oleh Allah SWT dengan diampuni segala dosa-dosanya dan Allah SWT memberikan kesempatan memasukkan dirinya ke dalam surganya yang mengalir sungai-sungai di dalamnya yang di dalamnya ada istana. Dijelaskan pula bukan hanya sebatas memasukkan ke dalam surga saja namun Allah SWT juga membuatkan istana mahligai yang indah yang disebut surga adn. Itulah keberuntungan bagi orang-orang yang memenuhi panggilan-Nya. 

Namun nikmat tuhan kamu yang mana yang kamu dustakan hingga kamu tidak datang atas panggilan-Nya?

Jadi, memandang kepada Allah SWT yang disebut syuhud dan musyahadah, pendekatan diri kepada Allah SWT diawali dengan melihat nikmat-nikmat yang berlimpah pada diri baik yang ada diluar maupun yang ada di dalam diri. Semua fasilitas telah diberikan dan ditebarkan oleh Allah SWT. Nikmati itu semua dan pandang itu semua dari Allah SWT dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Maka lihat semua itu dari Allah SWT, untuk Allah SWT, milik Allah SWT. Semua fasilitas di muka bumi adalah milik Allah SWT. Kita pun milik Allah SWT dan akan dikembalikan kepada Allah SWT. Itulah konsep dan akidah dari orang oramg yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan prinsip "innalillahi wa inna illaihi roji'un". Jika kalian terus memandang kepada Allah SWT maka yang ada adalah nikmat terus. Apa saja akan menjadi nikmat jika pandangannya kepada Allah SWT. Suami anak nikmat memandang istri apabila memandang semua gerakan istri ialah dari Allah SWT yang merupakan amanah dan anugerah dari Allah SWT. Tidak perlu langsung pada af'al Allah, asma Allah, sifat Allah, zat Allah. Bermula pandang semua dari Allah SWT dulu, jika sudah mantap pandangannya maka melangkah pada tahap selanjutnya yaitu mengenai af'al, asma, sifat dan zat Allah SWT sebagaimana yang telah dikaji pada kitab Ad Durrun Nafis. Lakukan pendekatan kepada Allah SWT dengan cara seperti itu agar tau rasa nikmat itu semua dari Allah SWT. Rasa orang orang yang merasakan dan mengetahui nikmat itu karena selalu syuhud dan pendekatan diri kepada Allah SWT.

Kenapa ada penderitaan? Penderitaan itu akibat orang itu terhijab. Terhijab jangan berimajinasi terlalu jauh. Terhijab yaitu intinya tertutup. 
Contohnya :
Orang awam tidak akan memandang kepada Allah SWT. Rizki yang datang tidak dikembalikan kepada Allah SWT termasuk tenaga dan kekuatan yang ada dalam diri bahwa aliran darah dan nafas semua dari Allah SWT. Yang ada adalah logika dan nalar. Karena terhijab itu maka mucullah penderitaan saat ada kondisi yang mengecewakan. Saat kita sakit maka akan marah-marah. Semua karena terhijab bahwa semua gerakan dari Allah SWT dan akan kembali kepada Allah SWT. Dari Allah SWT, milik Allah SWT, dengan Allah SWT dan kembali kepada Allah SWT. Jika faham seperti itu maka yang akan hanya nikmat. Jika tidak faham seperti itu maka yang ada adalah penderitaan/azab. Adanya azab karena hijab dan adanya nikmat karena syuhud dan musyahadah. Nikmat ada saat bisa mengamalkan syuhud. Adanya penderitaan karena terhijab.
Contoh :
Saat dijelek-jelekkan orang lain langsung memandang dengan syuhud bahwa ia menjelek-jelekkan digerakkan dan didatangkan oleh Allah SWT sebagai suatu peringatan bagi diri yang hanya baru sebagian kecil keburukan diri. Dengan begitu maka hati akan luruh.

Oleh karenanya mu'alif menjelaskan bahwa  yakni semua yang dirasakan oleh hati dan pikiran yaitu kegelisahan dan kegalauan semata mata karena masih terdinding, tertahan, terhenti, belum dapat melihat musyahadah kepada keelokan wujudullah/'ain wujudllah (wujud yang sesungguhnya). Jadi kegelisahan hati karena masih tertutup dan belum bisa melihat wujud yang sesungguhnya. Jika sudah bisa melihat wujud yang sesungguhnya maka tidak akan ada penderitaan karena hakekatnya rasa nikmat yang diberikan oleh Allah SWT. Bagi orang yang terbuka (aulia atau wali, sekalipun wali kecil) jika bisa menata sistem dalam diri ini bagaimana syuhud dan musyahadah maka kalian masuk pada golongan arifin billah sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT QS. Yunus ayat 62

‎أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Andai saja ada galau atau gelisan hanya sementara karena hanya sebagai reaksi kaget sebagai rasa kemanusiannya sebagaimana saat Rasulullah SAW kaget saat mendengar kabar bahwa Aisyah ra selingkuh dengan salah seorang sahabat hingga Rasul tidak mau menemui Aisyah ra. Bukan Rasulullah SAW tidak tau akan peristiwa itu namun itu semua manusiawinya dimunculkan oleh Allah SWT. Semua rasa ada namun tidak didramatisir hingga kekal dalam dirinya. Saat itu rasul lama tidak menemui aisyah karena menunggu ketetapan dari Allah SWT dengan diam di dalam kamar hingga turun ayat. Kemudian para sahabat Rasulullah SAW datang dan bertanya :
Ya Rasulullah, siapakah yang menjodohkanmu dengan Aisyah ra?
Jawab Rasul, Allah SWT.
Lalu apakah Allah SWT akan menzholimi dirimu sebagai kekasih-Nya?
Jawab Rasul, tidak.
Lalu apakah mungkin Aisyah selingkuh?
Jawab Rasul, tidak, namun tunggu keputusan Allah SWT yang akhirnya turun QS. An Nur ayat 26 :

‎الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).

Itu adalah contoh bahwa ada kegelisahan dan kegalauan. Oleh karenanya Rasulullah SWT di dalam QS Al Kahfi ayat 110 disuruh menyatakan bahwa ia seperti manusia biasa layaknya manusia dari bangsa manusia. Dan itulah kekasih kekasih Allah SWT namun tidak didramatisir. 

Contoh lain :
Tatkala Hamzah, paman Rasul, dibunuh dan diambil jantungnya, beliau nangis dan murungnya hingga 3 hari. Gelisah sedih boleh, namun tidak boleh lebih dari 3 hari. Suami istri jika berselisih tidak boleh lebih dari 3 hari, jika lebih maka tajdidul nikah karena sudah retak dan jika kalian mempunyai anak maka anak-anaknya tidak akan menjadi anak soleh karena retaknya hubungan suami istri. Jika ingin mempunyai anak yang soleh harus mengendalikan kemarahan kalian. BUKAN GOLONGAN BAPAK JIKA ADA SALIKIN YANG KASAR KEPADA ISTRINYA!

Bahwa kalian merasakan kegelisahan kerisauan hati karena tidak dekatnya dengan Allah SWT atau tertahannya memandang kepada-Nya baik memandang sifat, nama dan lain sebagainya. Oleh karenanya berurutlah kalian untuk tetap memandang kepada-Nya. Jika tidak memandang kepada Allah SWT maka akan menjadi hijab (penderitaan) sedangkan jika memandang kepada Allah SWT maka yang ada hanya kenikmatan. Jika telah memandang kepada Allah SWT maka jangan menganalisa dengan rasa kemanusiaan. Itulah pengamalan tauhid. Insya Allah kita diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam menuju kepada-Nya.
_______________
Dirangkum oleh : Himmah Hizboel