RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM, 19 Januari 2018/03 Jumadil Awal 1439H


Sabtu , 20 Januari 2018


RANGKUMAN KAJIAN JUMAT MALAM
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 19 Januari 2018/03 Jumadil Awal 1439H

_______________

Mu’alif mengatakan :
“Bahwa andai saja tidak ada ruangan/medan/tempat/area nafsu yang dijadikan sebagai tempat berperang dengan nafsu niscaya tidak akan terlihat orang yang benar benar menuju kepada Allah SWT karena disebutkan antaramu dengan antara-Nya tidak ada jarak yang harus ditempuh walau dengan kendaraan apapun bahkan juga tidak ada kalian itu putus hubungan dengan Allah SWT yang harus disambungkan” (Hikam Nomor 246)

Jadi, hijab yang melekat pada dirimu dan hijab itu akan putus atau hilang apabila kalian telah melalui proses perjalanan dengan berjuang yang disebut jihadul akbar, jihadun nafsu, yaitu perang yang paling besar ialah memerangi hawa nafsu. Jika belum juga melawan hawa nafsu dan kalah terus oleh hawa nafsu maka sama saja masih terhijab dalam lapisan lapisan bahkan makin dalam. Andai sedang melawan nafsu lalu kalah maka hijab semakin tebal. Tahukan kalian hijab yang ada dalam diri? Jika dihitung maka ada sekitar 70.000 hijab dalam menuju kepada Allah SWT. 

Hadis Rasulullah SAW :
“Orang yang berfikir sejenak sama dengan nilainya 70tahun ibadah sunnah”.

Berfikir yang dikehendaki dalam hadis tersebut ialah syuhud dan musyahadah hingga pada titik kalian melihat hakekat sesuatu itu. 
Contoh :
Perbuatan bahwa tidak ada perbuatan selain perbuatan Allah SWT ini sampai tamkin hingga tidak bisa tergoyahkan dan tidak menganalisa perbuatan itu. 

Setiap kita berjuang melawan nafsu lalu kalah maka hijab nafsu makin bertambah dan menutup hingga akhirnya berjalan ditempat. Oleh karenanya kita disuruh istiqomah dalam menuju kepada-Nya karena sesungguhnya Allah SWT tidak ada jarak dengan kita. 

Abu Yazid al Bustomi berkata : (JANGAN DIJADIKAN PEMBENARAN NAFSU)
“Kebanyakan manusia taubatnya dari segala dosa dosa sedangkan aku bertaubat dari mengucap Laa ilaha illallah”

Maksud mengucapkan disini ialah mengucapkan yang tidak mengerti layaknya burung beo yang mengucapkan perkataan yang ia tidak mengerti. Karena Allah SWT itu dekat sehingga seharusnya tidak perlu dipanggil panggil. 

ANALOGINYA ialah jika kalian membutukan seseorang yang ternyata orangnya dekat maka kalian tidak perlu memanggil manggil.

Orang yang memanggil manggil Allah SWT berarti tandanya jauh dari Allah SWT sedangkan yang tidak memanggil Allah SWT itu tandanya malu dan angkuh. Lalu sikapnya bagaimana? Yaitu seperti perkataan Abu Yazid yaitu taubat dari mengucapkan kalimat laa ilaha illallah yang tidak mengerti makna dan artinya yang berarti mengucapkan laa ilaha illallah dengan kalimat dan faham bahwa laa ilaha illallah itu ia harus tahu tentang tuhan dan Allah SWT dimana sebutannya semacam bentuk romantisme dalam cinta kasih dengan tuhannya. Tak ubahnya seperti istri memanggil suami dengan kalimat sayang. Saat mengucapkan laa ilaha illallah bukan berarti Allah SWT itu jauh namun sangat dekat bahkan kedekatannya itu sulit diukur namun juga tidak bersentuhan secara lahiriah. Oleh karenanya Bapak hendak membahas mengenai sikap hati kita dalam menuju kepada Allah SWT yang sudah banyak berlapis hijab. 

Barang siapa yang menghedaki jalan untuk keluar daripada dirinya/khorojta anka dengan memulai tahapan sebagai berikut (Tahapan khorojta anka) :
1. Mengeluarkan nafsu nafsu mazmumah dalam diri atau menghindari dari area nafsu dimana menghindari itupun strategi dalam perang melawan hawa nafsu. Mulai dari nafsu ammarah, lawwamah, sawwalat, sawwiyah, mutmainah (mazdub billah dimana Allah SWT memanggil nafsu mutmainah) hingga dalam wujud insan kamil dimana ia memakai nafsu pada wilayah ketuhanan (rodiyah dan mardiyah/senang dan menyenangkan). Setelah itu ia akan kembali pada maqom baqa yang berarti dinyatakan sebagai khalifah fil ‘ard sebagai uswatun hasanah dan masuklah ia dalam dua surga yaitu surga dunia dan surga akhirat (jannatul firdaus). Surga dunia yaitu dimana ia mengenal wilayah kehambaan dan ketuhanan dan inilah insan dalam makna fii ahsani takwim dan dijadikan sebagai uswah/contoh. Orang yang dijadikan contoh ialah orang yang sudah sampai pada nafsu mutmainah/yang telah khorojta anka (keluar engkau insan hakiki dari insan bashari). 

Barang siapa yang menghendaki keluar dari dirinya maka hebdaklah ia mengetahui bahwa orang yang ahlut thoriq itu ada 3 bahagiannya yaitu : 

  1. Orang yang ahlul abid
  2. Orang yang murid (in)/mempunyai kehendak
  3. Orang yang ‘Arif

AHLUL ABID
Merupakan orang orang mubtada/pemula dimana ia istiqomah dalam bentuk pengabdian ibadah apapun. Jadi tidak pernah ia melepaskan ibadah. Inilah yang disebut ahlut thoriq. Bagaimana jika ada salikin yang tarikus syariat? Ini tidak benar karena orang yang menuju kepada Allah SWT salah satunya ia orang yang ahli ibadah dengan melakukan berbagai macam ritual. Jalan orang yang abid ialah memperbanyak amal dan menjauhi segala perpalingan atau kemungkaran dan menghindari dari ketersesatan. Tingkatan orang ahlul abid sangat istimewa. Jika kalian benar mengkaji dan dalam bimbingan yang benar sekaligus menjadi ahlut thoriq yang benar maka niscaya kalian tidak akan terlunta lunta. Jika kalian sesuai kaefiyat akmaliah kholwatiyah maka sepanjang hidupnya penuh berkah. Ahlut thoriq sama saja seperti gambaran Rasulullah SAW saat isra dan Allah SWT menjanjikan keberkahan meliputi sepanjang jalannya. Siapapun hang ada dijalan Allah maka urusannya akan dipenuhi Allah SWT. 

Bukan pula berada di jalan Allah SWT kemudian kalian berhenti ikhtiar dalam dunia namun kalian akan mendapatkan keberkahan dalam ikhtiar kalian. Ini merupakam fasilitas dunia. Sedangkan fasilitas ruhaniah ialah Kami beritahukan tentang tanda tanda kebesaran-Nya. Jadi selain mendapatkan keberkahan dunia, ia juga selalu bersyukur dengan syuhud dan musyahadah. Tiap mendapatkan sesuatu ia tidak angkuh dan sombong sehingga ia merasa aku bisa melakukan ini dan itu yang akhirnya rasa itu membelit dalam diri dan akhirnya menjadi senjata yang membunuh diri sendiri. 
Contoh :
Orang tua sakit hati saat anaknya tidak hormat karena merasa telah mendidik dan merawat anaknya dari kecil

“Jalannya orang yang abid selalu memperbanyak amal ibadah dan selalu menjauhkan perpalingan”.

Orang yang telah mencapai :

  1. Hakekat ISLAM maka TIDAK kuasa BERHENTI dari AMAL
  2. Hakekat IMAN maka TIDAK kuasa BERPALING dari AMAL.
  3. Hakekat IHSAN maka TIDAK kuasa BERPALING dari SEORANG JUAPUN yang berarti ia tidak pernah berpaling dari Allah SWT yang berarti syuhudnya tidak pernah lepas walau dalam tidurnya sekalipun. 

 

‎يَا عَائِشَةُ إنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي -متفق عليه
“Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya kedua mataku tidur namun tidaklah hatiku tertidur.” (Muttafaq ‘alaih)

Oleh karenanya mimpinya Rasulullah SAW/para nabi disebut wahyu dan mimpinya arifin billah disebut ilham. 

AHLUL MURID/AHLI KEHENDAK
Yaitu jalannya orang orang yang mempunyai kehendak yaitu kebiasannya ialah menundukkan wilayah batiniah yakni menggempur semua nafsu nafsu yang ada pada dirinya dan sekaligus menyelesaikan hati yang terkadang penuh dengan kebimbangan. 

Orang yang ahli kehendak berarti sudah meningkat yaitu berjuang melawan hawa nafsu hingga membersihkan dari kotoran yang berarti takholli dan tahalli yaitu mengosongkan diri darinafsu mazmumah kemudian mengisinya dengan nafsu mahmudah. Orang orangnya disebut ahlul hikmah. 

Adabut thoriqin atau adabnya seorang thoriqin ialah :

  1. Sewaktu waktu ia pakai adabus syariah, ialah adabnya seorang ahli syariat yaitu ahlul abid yaitu orang yang selalu memperbanyak amal ibadahnya.
  2. Sewaktu waktu memakai adabul hikmah, yaitu ia berhikmah dimana ia berjuang melawan hawa nafsu dimana ia mengtakzimkan hanya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya sehingga nafsunya itu tidak pernah diikutinya.
  3. Sewaktu waktu memakai adabul haq

Maksudnya pada satu saat ia memakai adabus syariat, satu saat memakai adabul hikmah dan satu saat memakai adabul haq. 

AHLUL ‘ARIF
Seorang Arifin Billah selalu menjaga kesucian hati dari selain Allah SWT agar hatinya tidak tercampur atau ternoda dari dunia atau sesuatu apapun. Ia selalu dalam kondisi ridho terhadap Allah SWT. Oleh karenanya batalnya wudhu Arifin Billah apabila ia suuzhon terhadap Allah SWT. Wudhunya Arifin Billah memakai ma’ul barid (air penyejuk jiwa) yaitu hati yang lapang yang selalu memaafkan kesalahan setiap orang. Sekalipun ia mengatakan sebal kepada orang yang salah namun hatinya sebenarnya telah memaafkan sebelum yang salah datang meminta maaf. Hati yang panas karena tidak memaafkan kesalahan orang lain, jika memaafkan maka hati tidak akan panas. 

Rasulullah SAW yang dilecehkan, disiram kotoran onta, dilempar batu namun beliau malah berdoa “Ya Allah ampuni dosa mereka karena mereka tidak tahu siapa aku andai mereka tau siapa aku pasti mereka tidak akan seperti itu”.

Bahwa tidak akan sampai kepada tahqiq melainkan dengan cara muroqobah di segala waktu dengan rangkaian rangkaian seperti kalian harus memperbanyak zikir dengan taubatan nasuha kemudian banyak memandang karunia Allah SWT yang berlimpah pada kalian yang tidak hanya sebatas karunia lahirian namun juga karunia rasa dimana kalian bisa berbuat ibadah, berbuat baik kepada orang lain yang merupakan karunia dari Allah SWT. Oleh karena itu syukuro segala nikmag yang sampai ke dalam dirimu dan tetaplah sabar dalam ujian dan cobaan yang sampai kepadamu dari Allah SWT. Dan inilah yang dikehendaki dalam hadis qudsi :
“Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada ilah selain Aku, barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku serta “tidak ridho terhadap keputusan-Ku”, maka hendaklah ia keluar dari kolong langit dan cari Tuhan selain Aku”.

3 hal yang ada yaitu sabar, syukur dan ridho yang menjadi kesatuan dalam diri untuk menuju kepada Allah SWT. 

“Tidak akan sampai dirimu kepada babul hakekat kecuali dengan sebab hatimu tunduk dengan memperbaiki hati dirimu dan juga selalu menghadapkan bahwa dirimu sangat rendah dan dhoif penuh kesalahan”.

Adalah sampai dirimu kepada yang demikian itu, salah satunya dari empat perkara yaitu dengan :

  1. NUR yang diletakkan Allah SWT di dalam hatimu. Jika belum mendapatkan nur dari Allah SWT maka ini persoalan. Nurullah itu hidayah (secara lahiriah). Dengan kalian duduk di majelis ini karena ada nur dari Allah SWT.
  2. WASILAH yaitu perantara/media boleh dalam arti guru/Mursyid/pembimbing. 
  3. Dengan ILMU. Orang yang bejalar hanya dari buku tanpa ada bimbingan maka gurunya syaitan.
  4. Dengan AKAL YANG SEMPURNA yang tidak ternoda oleh fikir.  Akal yang sempurna itu dari iman yang ada di dalam dirinya dimana ilmu yang mengalir menjadi wawasan dirinya.

Hidayah, pembimbing, ilmu dan akal yang sempurna ada dalam diri kalian. Tinggal kalian mengolah yang 4 perkara ini menjadi energi utama dalam perjalanan menuju kepada Allah SWT.

Apabila kalian ada 4 perkara tersebut maka tidak ada jalan yang menghalangi kalian untuk sampai pada babul hakekat terlebih sampai kepada hakekat wujud (liqo Allah). Dan juga yang dikehendaki disini kalian harus bersahabat atau berdekatan dengan orang orang yang dapat membimbing kalian atau tapaut hatinya dengan seorang Waliya mursyida yaitu yang memberikan jalan yang baik dan terang karena seorang Mursyid itu yang memberikan jalan yang terang dan membentuk perangai kalian menjadi akhlaqul karimah dan memberikan adab atau tata cara menuju kepada Allah SWT yaitu jalan yang menyampaikan dirimu kepada-Nya secara lahiriah dan juga yang menerangi dan memberikan energi pada batiniah mu. Dan seorang Mursyid itu juga yang menghimpunkan dirimu untuk hadir memelihara dirimu dari segala hal hal yang ghoib atau memelihara dirimu dari gangguan yang ghoib (syaitan jin) sehingga tidak disesatkan. Itulah pentingnya seorang pembimbing. Salah satu dari segala sifatnya ialah tidak ada syarat dan masrutnya bahwa ia itu alim pada sekalian ilmu dan juga tidak berdiri atas sekalian ahwalnya dan tidak juga bahwa ia alim pada yang engkau tuntut akan ia seperti yang engkau tuntut kesejahteraan di dalam ruhaniahnya dan selamat kalian dari bid’ah dan hawa nafsu. Yang dimaksud disini ialah jika kalian melihat syarat seorang Mursyid ialah :

  1. Alim dimana kalian bisa menuntut ilmunya
  2. Ia juga berdiri pada ahwalnya yaitu dalam bentuk uswatun hasanah/akhlaqul karimah
  3. Ia juga selalu hadir untuk memelihara dirimu dari gangguan batiniah yang bisa membackup dirimu dalam wilayah ruhaniah dimana seorang yang menuju kepada Allah SWT dalam thoriqohnya banyak menemui gangguan. Misalnya dalam thoriqoh ia melihat jin yang sebenarnya itu adalah gangguan yang menyesatkan. 

_______________
Dirangkum oleh: Himmah Hizboel