RANGKUMAN KAJIAN SABTU MALAM, 14 Oktober 2017/25 Muharam 1439H


Sabtu , 14 Oktober 2017



Kitab Siyarus Salikin dan Ihya 'Ulumuddin
Pesantren Akmaliah Salafiah
Sabtu, 14 Oktober 2017/25 Muharam 1439H

________________

Orang yang menuju kepada Allah SWT tanpa adanya bimbingan seorang guru maka mustahil akan sampai kepada-Nya. Bahkan dijelaskan bahwasanya mencari seorang guru itu wajib hukumnya sekalipun ia adalah sebesar besar ulama (fiqih/lahiriah). Ulama lahiriah berbeda dengan ulama ulama hakekat/arifin billah/para aulia/ulama yang faham dan mengerti tentang tauhid dan hakekat. Jika hanya sekedar ulama yang faham mengenai fiqih maka belum disebut sempurna sebelum ia menjalani jalan menuju kepada Allah SWT atau jalan thoriqoh dengan berbagai macam syarat. 

Memilih Mursyid pun harus baik dan benar. Jangan memilih Mursyid atas dasar seorang guru itu terlihat sakti seperti bisa jalan di atas air atau lainnya. Dalam memilih guru, maka yang pertama kali dilihat ialah :
Akhlaqnya bisa dijadikan uswatun hasanah dimana sifat yang paling menonjol ialah  kesabarannya karena diangkatnya seorang pemimpin itu tatkala ia sabar. Jika tidak sabar maka tidak bisa dijadikan pemimpin. Kalian mendatangi seorang guru itu haruslah ia seorang yang sabar dan akhlaqnya bisa dijadikan uswah. Sebagaimana sahabat melihat akhlaq Rasulullah dimana Rasulullah mempunyai akhlaq yang mulia sebagaimana Allah SWT berfirman dalam QS. Al Qalam ayat 4 :

‎وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

Hingga akhirnya Rasulullah SAW sendiri pun mengklaim dalam hadis :

‎إِنَّمَا بُعِثتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخلاَقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-shahihnya No.45).

Maka akhlaq yang mulia ialah yang ikut atau sejalan dengan prinsip prinsip atau dengan aturan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya baik dalam kehidupan sosialnya maupun dalam ibadah ritualnya. Jangan melihat keistimewaannya (guru) namun lihatlah akhlaqnya karena dicintainya islam ialah akhlaq. Puncaknya orang beragama islam ialah berakhlaqul karimah. Oleh karenanya Rasulullah SAW menyatakan sebagaimana hadis diatas. Akhlaq yang mulia ialah contoh :

  1. Memberikan salam, walau memberikan salam sunah dan menjawab salam wajib, namun hakekatnya salam itu ialah doa. Bukan sebatas kebiasaan orang yang menjadikan salam seperti salam selamat pagi.
  2. Yang muda menghormati yang tua
  3. Beradab

Akhlaq yang semacam itu (salam) akan dikenal oleh semua umat islam. Salam islam itu universal untuk semua umat islam, berbeda dengan salam yang bersifat budaya lokal setempat. 

Akhlaq merupakan puncaknya orang beragama. Jangan mengaku orang beragama apalagi mengaku belajar ilmu tauhid dan hakekat namun akhlaqnya buruk. Bentuklah akhlaq kalian mulai dari rumah tangga kalian, suami memberikan contoh akhlaq yang baik kepada istri, begitu pula sebaliknya. 

Jadi, intinya agama ialah menundukkan hati menjadi tawadu' dan mengendalikan nafsu mazmumah menjadi nafsu mahmudah.

Jika ada masalah di antara salikin (suami istri), jalan yang paling baik ialah saling intropeksi, bukan saling menghujat satu sama lainnya. Seorang suami harus bisa mengelola emosinya, jangan meletup-letup. Seorang istri harus bisa menahan bicaranya tatkala suami marah.

Untuk mendapatkan Mursyid, pertama yang dilihatnya ialah akhlaqnya. Mencari seorang Mursyid itu hukumnya wajib. Oleh karenanya orang yang bertemu dengan seorang Mursyid itu tanda-tanda mendapat petunjuk dari Allah SWT.

‎وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَت تَّزَاوَرُ عَن كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَت تَّقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِّنْهُ ذَٰلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَن يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَن يُضْلِلْ فَلَن تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُّرْشِدًا
Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. Al Kahfi ayat 17)

Jadi, sekalipun ia seorang ulama besar (fiqih) tetap ia wajib mencari seorang Mursyid. Jika tidak mempunyai Mursyid, maka Syeikhnya itu syaitan. Orang yang belajar ilmu namun tidak mempunyai guru, maka gurunya itu syaitan. 

Sikap bagi seorang yang berjalan menuju kepada Allah SWT apabila telah dipertemukan Mursyid ialah hendaklah ia menyerahkan dirinya kepada Mursyidnya seperti mayit dihadapan orang yang memandikan. Jika tidak seperti itu (atau ngeyel) maka tidak akan bisa. Jika sudah bertemu seorang Mursyid dan ingin menjadi muridnya maka serahkan diri sebagaimana mayit berserah kepada amilnya. Maksudnya demikian ialah agar gurunya membersihkan dan mensucikan segala najis-najis yang ada di dalam hatinya dan sifat-sifat mazmumah agar sampai kepada Allah SWT karena apabila seorang murid tidak menyerahkan diri sepenuhnya maka ia tidak akan sah menjadi seorang murid yang berarti tidak akan sampai pada titik tujuan yang dicita. Mayit akan bersih dari segala najis jika ia diam/nurut oleh amilnya karena amil akan membersihkan segala najis-najis dan memandikan janabat. 

Jika kalian ingin menjadi seorang murid seorang guru dan dimana saja, kalian harus menyerahkan sepenuh diri kalian. Murid yang sangat tidak beradab ialah murid yang "mengcounter" gurunya kecuali gurunya sedang memberikan keleluasaan diskusi untuk memberikan kesempatan untuk berkreasi di dalam ilmu, namun jika sedang mengaji maka tidak bolah "mengcounter". Tidak boleh seorang salikin mengatakan "ah kitab itu sudah sering saja baca". Seorang guru lebih tau tentang diri muridnya ketimbang muridnya sendiri. Menjadi seorang murid kepada seorang Mursyid itu wajib dan ketika sudah bertemu dengan seorang Mursyid maka serahkan sepenuh diri kepada Mursyidnya sebagaimana mayit dihadapan amilnya. 

Dalam diri manusia itu ada najis lahiriah dan batiniah. Najis lahiriah yaitu najis yang terlihat dan dapat dibersihkan secara lahiriah. Najis batiniah yaitu yang terkait dengan nafsu nafsu mazmumah yang ada dalam diri seperti nafsu lawwamah dan sawwalats seperti hasud, takabur, ujub, riya, ghodob, namimah, hubud duniya, hubul mal, futur, kasal, malal, sum'ah, hijab, dan lainnya. Semua najis-najis itu akan dibersihkan oleh Mursyidnya melalui proses pembelajaran ilmu. Oleh karenanya kalian harus istiqomah mengkajinya. Jika tidak istiqomah maka akan ada bagian yang terputus pemahamannya. Mengikuti kajian secara online pun tidak mengapa yang terpenting tetap istiqomah. Tidak ada alasan kalian tidak mendengarkan ilmu karena sekarang sudah ada rekaman kajiannya. Kebanyakan salikin tidak sempurna kebersihan bahkan tidak akan sampai kepadanya karena ia tidak menyerahkan sepenuhnya kepada Mursyidnya seperti contoh kisah Nabi Musa as dengan Nabi Haidir as.

Anak-anakku, istiqomahlah dalam mengaji dan jangan ditinggalkan kemudian amalkan apa yang telah kalian dapat.

Syarat untuk diakui sebagai anak ruhaniah Bapak setelah melalui proses Talqin islam dan baiat thoriqoh, yaitu :

  1. Menerima ilmu yang diberikan
  2. Mengamalkan ilmu yang diterima dengan baik dan benar 
  3. Istiqomah

_______________
Dirangkum oleh : Himmah Hizboel