Kitab Hikam Ibnu Athaillaah, 01 Maret 2013/19 Rabiul Akhir 1434H

Anak anakku, jangan kalian terpesona dengan keindahan duniawiyah, ruhaniah dan nafsaniah. Jangan terpesona dengan khabar mengenai keistimewaan dan jangan terpesona serta terjebak dengan berbagai macam karomah, ma’unah para kekasih Allah SWT. Cukup jadikan semua itu sebagai pelajaran dan acuan sekaligus dijadikan untuk menumbuhkan himmah/tekad namun bukan berarti kalian menjadi penghayal untuk mencapai kesana. Puncak tujuan seorang hamba ialah tuhannya, bukan surga atau alam lainnya."
Nasehat Mursyid saat mengkaji Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Jumat, 01 Maret 2013/19 Rabiul Akhir 1434H
Selengkapnya

Kitab Hikam Ibnu Athaillaah, 15 Febuari 2013/05 Rabiul Akhir 1434H

Anak-anakku, ujian yang paling berat bagi seorang salikin memang menghadapi gurunya dan orang tua baik orang tua lahiriah maupun orang tua ruhaniah dan teristimewa orang tua ruhaniah karena pada saat kalian berhadapan dengan orang tua ruhaniah kemudian kalian HANYA melihat wilayah JASMANIAH saja maka pasti akan terjerembab. Dan yang paling berbahaya ialah ISTRI para arifin billah karena riskan sekali disaat ia melihat sisi seorang suami dan terbawa arus kesuamiannya sampai pada poin-poin tertentu. Oleh karenanya Rasulullah SAW menjaga betul istrinya hingga pada saat istrinya telah menanggap benar perkataanmu bahwa “aku adalah manusia biasa sepertimu” pada wilayah lahiriah.

Namun berbeda pada wilayah ruhaniah yaitu wilayah kewahyuan. Allah SWT memang menurunkan nabi dari bangsamu, Allah SWT juga menurunkan Mursyid/para Aulia juga dari bangsamu agar kamu bisa berinteraksi dan sekaligus bisa mengambil uswahnya. Namun jangan kalian terpedaya pada wilayah lahiriah. Banyak murid yang terpelanting karena hanya melihat wilayah lahiriahnya. Dulu, prinsip Bapak dan Bapak telah bersumpah jika Bapak mengangkat seorang guru dan mengabdikan diri kepada seorang guru dan Mursyid maka Bapak tidak akan bergeser sedikitpun dan akan memelihara zhon semaksimal mungkin. Tidak bedanya menjaga zhonnya kepada Allah SWT walau guru Bapak berubah menjadi babi, anjing dan kelakuannya seperti binatang, ia tetaplah guru Bapak dan Bapak akan tetap takzhim dan mengabdi. Karena saat murid melawan Gurunya dengan pengetahuannya yang dangkal pasti tidak akan bisa menjangkaunya kalau masuk ke wilayah ruhaniah karena setiap guru mempunyai rahasia yang tidak akan bisa terbongkar.

Menjaga zhon dalam hati sangat penting sekali karena kerusakan hati seorang salikin itu karena zhon. Oleh karenanya adab seorang salikin ialah tidak boleh "mengcounter" ilmu diberikan gurunya dengan ilmu yang ada pada dirinya yang sesungguhnya ilmunya masih dangkal sekali."
Nasehat Mursyid saat mengkaji Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Jumat, 15 Febuari 2013/05 Rabiul Akhir 1434H
Selengkapnya

Kitab Hikam Ibnu Athaillaah, 01 Febuari 2013/ 20 Rabiul Awal 1434H

Anak-anakku, orang yang sudah tawwakalnya benar persis seperti air mengalir, terus mengalir tanpa henti. Istiqomah. Terus berjalan menuju kepada Allah SWT. Ia tidak akan berhenti karena mendapatkan ujian kesusahan. Tidak akan berhenti karena sesuatu apapun. Ia tetap mengalir menuju kelautan, itulah air. Itulah hakekat manusia yang sesungguhnya dan itulah manusia yang benar benar telah mencapai derajat tawwakal yang sesungguhnya karena ia telah mencapai derajat manusia yang sesungguhnya pula yang mempunyai nafsu mutmainah yang sudah ma'rifatul abdi wa robby yaitu mengenal tentang kehambaannya dan mengenal tentang ketuhanan. Oleh karenanya mengalirlah seperti air. Tidak ada yang lain dalam kondisi apapun selain memaafkan. Jika kalian memaafkan sesuatu apapun juga maka akan mengalir seperti air. Kalian bisa berhenti perjalanannya karena tidak memaafkan. Anak-anakku, jadilah kalian seperti air yang mengalir menuju ke lautan seperti hamba hamba yang tetap berjalan di bawah takdir Allah SWT dan menyerahkan semua kepada Allah SWT dan tetaplah mengalir hingga sampai ke sumbernya ialah Allahu Robby."
Nasehat Mursyid saat mengkaji Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Jumat, 01 Febuari 2013/ 20 Rabiul Awal 1434H
Selengkapnya

Kitab Hikam Ibnu Athaillaah, 01 Febuari 2013/ 20 Rabiul Awal 1434H

Anak-anakku, andai kalian mengamalkan ilmu yang kalian dapat walau sedikit (10-20%), niscaya kalian akan mempunyai sikap yang ulul, niscaya kalian akan mempunyai akhlaqul karimah. Jadikan ilmu yang kalian diterima sebagai pedoman dalam sikap hati dan cara pandang kalian. Jalan hidup harus mempunyai kekuatan dan mempunyai cahaya ilmu dan amal dimana ilmu disini ialah tauhid dan hakekat yang diterapkan di dalam hati menjadi sikap hidup kalian maka ilmu itu akan menuntun hidup kalian dan menjadi penerang hidup kalian. Maka apabila sudah benar sikap hidup kalian, sikap pandang dalam menganalisa dan melihat sesuatu apapun, itulah yang dikehendaki dengan nurul aqlinya benar benar bercahaya dan nurul 'ilminya benar benar bermanfaat dan menentramkan hati dan jiwa. Maka, sudahkah kalian menjadikan ilmu yang dikaji benar benar dijadikan sebagai pedoman perjalanan hidup?"
Nasehat Mursyid saat mengkaji Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Jumat, 01 Febuari 2013/ 20 Rabiul Awal 1434H
Selengkapnya

Kitab Hikam Ibnu Athaillaah, 20 September 2017/01 Shafar 1439H

Anak-anakku, mari kita berjalan menuju kepada Allah SWT. Jangan mencintai sesuatu selain Allah SWT. Jadikan dunia sebagai alat/piranti untuk menuju kepada Allah SWT bukan untuk menguasai dan memiliki karena itu tidak akan pernah terjadi karena kalian tidak akan bisa mengusai dan memiliki sesuatu apapun. Apa yang kalian pakai itulah yang ada pada diri kalian, selainnya itu bukan dalam kekuasaan kalian. Jika menjadikan dunia sebagai piranti menuju kepada Allah SWT, Insya Allah akan selamat dunia dan akhirat."
Nasehat Mursyid saat mengkaji Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)
Jumat, 20 September 2017/01 Shafar 1439H
Selengkapnya