RAP 19.16


Ahad , 08 Mei 2016

Rap 19.16

Rap 19.16


CINTA KASIH ALLAH
Bagian Kedua

Perjalanan kita menuju kepada Allah Ta’ala harus benar-benar kita tempuh dengan sepenuh hati dan iman, sekaligus mengalir bagaikan air. Air mengajarkan kita tentang kepasrahan, maka mengalirlah seperti air.

Anak-anakku sekalian… Dalam hukum fikih, air yang diam (tidak bergerak) apabila berkurang dari batas suci (dua kulah) maka akan menjadi musta’mal dan akan menjadi mutlak apabila mencapai batas maksimal kadar air yang disebut dua kulah (kira-kira 216 liter atau dalam wadah yang berukuran tinggi kali lebar kali panjang centi meter; 60 x 60 x 60). Tapi, seberapa pun airnya, kalau dia mengalir, contohnya air kran, hukumnya ia tetap suci dan bersih (karena ia tetap menyatu dengan Diri-Nya). Diri kita yang menjadi pejalan dan tengah berjalan menuju kepada-Nya ini, ibaratnya air yang mengalir menuju ke laut. Kendati diperjalanan ada bangkai maupun kotoran, asalkan tetap mengalir maka akan tetap suci. Kendatipun kita memiliki salah dan dosa namun karena, Al Insanu mahalul khatha’ wannisyan – manusia itu tempatnya salah dan lupa, maka selalu terbuka pintu ampunan-Nya. Dosa-dosa kalian akan diampuni asalkan tetap berjalan menuju kepada Allah, tetap mengalir mengikuti kehendak dan ketetapan-Nya, dan menjaga jiwa tetap bersih. Yang kerap menjadi persoalan adalah bagi orang yang mudah putus asa, karena merasa telah banyak berbuat dosa sehingga akhirnya menjadi apatis dan semakin jauh membenamkan dirinya ke dalam dosa. Padahal, orang yang seperti itu berarti dia bukan orang Islam sejati. Karena Islam sejati meyakini kasih sayang Allah yang Maha Pengampun kepada setiap hamba.

Anak-anakku sekalian… Tetaplah kalian mengalir. Tetaplah berjalan menuju kepada Allah Ta’ala. Jangan putus asa meski kalian banyak salah dan dosa. Karena, Innallaha ghafurur rahiim – Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dia senantiasa membuka pintu maaf bagi hamba-hamba-Nya, dan memberikan ampunan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dosa sebesar apa pun tidak ada artinya apabila Allah telah datang Bi Rahmatillah – dengan cinta kasih Allah, dengan karunia dan keistimewaan-Nya, dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya. Tidak peduli dosa sebesar apa pun, bila Allah datang menjemput Bi Rahmatillah – dengan cinta kasih-Nya dan dengan anugerah dan karunia-Nya, maka semua terampuni.

Meski Allah demikian pemurahnya kepada hamba, namun kalian juga tidak boleh menganggap enteng dosa (sekecil apa pun). Karena, Allah juga bisa datang kepada kalian dengan hukum keadilan-Nya, Bi fadhlillah. Apabila Allah datang dengan Bi fadhlillah, maka dosa sekecil apapun akan diperhitungkan-Nya. Berbeda apabila Allah datang dengan Bi rahmatillah. Yang dimaksud disini adalah, apabila kalian banyak dosa jangan khawatir, raja’(baca: roja)-lah kalian. Artinya, munculkan sifat raja’(baca: roja) (optimisme) kalian bahwasanya Allah Maha Pemurah dan Maha Pengampun. Tapi, kalau muncul dorongan hendak berbuat salah maka, ingatlah bahwa dosa sekecil apa pun akan diperhitungkan oleh Allah Ta’ala. Famaa ya’mal mitsqala dzarratin khaira yarrah, wamaa ya’mal mitsqala dzarratin sarra yarrah – sekecil apapun dosa, Allah tetap akan memperhitungkan, jika Dia datang dengan keadilan-Nya. Jadi intinya adalah, tetap istiqomah-lah kalian berjalan menuju kepada Allah Taala. Jangan kalian berhenti dan merasa sudah cukup dengan pencapaian kalian. Tidak ada istilah cukup! Selama nafas masih dikandung badan, tidak ada istilah berhenti ditengah jalan. Semoga perjalan kita adalah perjalanan yang dibimbing oleh Allah Taala. Aamin ya robbal Alamin.

by hizboel