TABAYYUN DENGAN MURSYID DI MUNASSIQ KRAMAT JATI DAN PONDOK GEDE, 08 Oktober 2017/ 18 Muharam 1439H


Ahad , 08 Oktober 2017


MUNASSIQ KRAMAT JATI DAN PONDOK GEDE
Hari         : Ahad
Tanggal  : 08 Oktober 2017/ 18 Muharam 1439H
Lokasi    : Rumah Bapak Jono

_______________

 

SALIKIN
Terkait hakekat memandang segala perbuatan kepada Allah SWT, ketika memandang suatu kemaksiatan seperti zina atau korupsi, saya belum bisa mengembalikan kepada Allah SWT. Namun kalau hal yang baik baik masih bisa mengembalikan kepada Allah SWT. Bagaimana cara pandang agar memahami hakekat semua perbuatan adalah perbuatan Allah SWT dan bagaimana memilah agar kami tidak salah memandang?

MURSYID
Sebenarnya pertanyaan tersebut sudah terjawab di kajian ahad pagi tadi. Yakni cara memandang (di dalam hati) dengan ilmu bukan ucapan atau kata-kata. Disini tidak untuk perbuatan, namun disini disuruh memandang/melihat dengan ilmu yang disikapi di dalam hati bahwa hakekat semua perbuatan adalah perbuatan Allah SWT kemudian disimpan di dalam hati. Namun perbuatan harus sesuai dengan syariat karena sikap pandang kalian masih sepihak. Jangan memaksakan kehendak kalian bahwa kalian masih jadi hamba yang melihat hakekat perbuatan-NYA bukan melihat wujud atau kondisi atau keadaan diri secara sempurna namun melihat hakekat perbuatan-NYA bukan wujud diri perbuatan. Jadi memandangnya dengan ilmu dan disikapi di dalam hati yang bukan untuk kata kata atau ucapan. Setelah mapan cara memandang hakekat kepada Allah SWT dan disimpan di dalam hati maka secara lahiriah melakukan perbuatan sesuai hamba Allah SWT yang diperintahkan oleh Allah SWT yaitu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika melihat perbuatan mungkar maka kamu bisa melerainya dengan kekuatanmu atau dengan dengan kata katamu atau dengan doamu. Jadi jangan salah persepsi dan salah paham. Memandang hakekat kepada Allah SWT itu bukan berarti menggugurkan syariat. Kebanyakan salikin salah memandang dengan membiarkan syariat. Misal ada anak yang mau jatuh, malah didiamkan, seharusnya ialah walau sedang syuhud tetap harus menolongnya. Jika didiamkan maka ini fasik yang masuk golongan jabariyah. Kalian pandang semua kepad Allah SWT namun jangan pandangan itu menghalangi syariat kalian untuk melakukan perbuatan yang harus dilakukan sesuai perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Sikap pandang itu di dalam hati bukan di luar hati, sikap pandang itu di dalam hati bukan dikata kata atau perbuatan. Itulah yang harus dijadikan keyakinan dan paradigma hidup dan akidah.
_______________


SALIKIN 
Saya sedang terkena kasal dalam usaha dan ikhtiar, bagaimana cara untuk mengobati penyakit tersebut ?

MURSYID
Di dalam kitab ad Durrun Nafis (muqodimah) ada penyakit penyakit hati lahir batin dimana kemaksiatan itu akan membawa seseorang berhenti menuju kepada Allah SWT atau terhalangi hingga batal perjalannya yang salah satu penyakitnya ialah KASAL yaitu orang yang segan/malas untuk melakukan berbagai macam ibadah, usaha dan ikhtiar dan orang yang malas tidak akan mendapatkan kebahagian dunia akhirat. Jangan harap menjadi orang yang disukai, pintar, disukai Allah SWT dan Rasul-NYA dan kekasih-NYA jika malas. Untuk menanggulangi malas ialah sikap pandangmu kepada Allah SWT sebagaimana yang telah Bapak jelaskan pada jawaban pertanyaan atas mengenai sikap pandang yang baik dan benar. Disamping itu, terus bertapaut dengan Mursyidnya dengan mengingat fatwa-fatwanya. Jika tidak malu karena Allah SWT tidak terlihat dan juga tidak malu akan Rasul karena hidup jauh tidak sezaman dengannya, maka malulah akan fatwa Mursyidnya karena dengan mengingat Mursyidnya setidaknya akan mendapatkan kekuatan hingga bisa bangkit. Jika kalian malas-malasan maka akan menjadi persoalan tersendiri. 

Dari sisi pribadi, bangkitkan dan sentak. Jangan ternina bobokan nasfu yang mengatas namakan tauhid dengan mengatakan "ini malas juga karena Allah SWT, jika Allah SWT menggerakkan maka akan shalat juga". Perkataan ini ialah memperkuda ilmu sekaligus mengotori ilmu dengan nafsau-nafsunya sehingga ilmu hanya dijadikan pembenaran nafsunya. Jika ada malas ibadah, maka bangkitlah dan sentak. Malas terjadi karena terbiasa tidak melakukan sesuatu. Misal, malas shalat karena terbiasa tidak shalat. Jadi malas terjadi karena tidak ada kulino. Seperti seorang laki-laki jika terbiasa kasar kepada istrinya maka kasar terus. Begitu juga istri jika terbiasa cerewet maka akan cerewet terus. Biasakan yang baik-baik diantara suami istri. 
_______________


SALIKIN 
Apakah Nabi Sulaiman as juga berdoa dengan doa sulaiman? Apakah semua doa dari Salikin Akmaliah rata-rata terkumpul dari doa sulaiman dan apakah manfaatnya?
Mohon penjelasan Mengenai kalam hikmah "cinta dapat menjadi energi untuk meraih sesuatu apapun namun juga dapat menjadi hijab dan penghalang untuk mengapai asa"

MURSYID
Bukan sebatas Nabi Sulaiman as bahkan nabi nabi lainpun karena doa itu bukan sebatas doa namun juga sebagai akidah. Jika kalian pernah baca kitab Sulam Taufiq maka diawal muqodimah ada doa semacam itu juga. Amalkan dan itu istimewa. Bukan hanya mengamalkan sebatas zikiran namun amalkan sesuai apa yang tercantum dan terkandung di dalamnya itulah pengamalan yang sebenarnya. Jika wiridan adalah dibaca 7x setiap magrib dan subuh maka yang namanya mengamalkan adalah mengaplikasikan isi dari doa itu dalam kehidupan keseharian dan ini pula sebagai jawaban atas pertanyaan yang kedua.
_______________


SALIKIN 
Bagaimana memahami QS. Al Hadid ayat 3

‎هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Pemahaman saya hanya sebatas syariat oleh karenanya bagaimana sudut pandangnya dari salikin yang berthoriqoh?

MURSYID
Ayat ini yang harus ditengarai, ialah :
Kalimat HUWA, apakah dhomirnya langsung kepada Allah SWT atau HUWA-nya kepada INSAN KAMIL atau HUWA-nya kepada Muhammad Hakiki atau titik "ba" ? Yang sederhana saja bahwa ayat tersebut berarti DIA itu Allah SWT yang awal yang akhir yang dhohir dan yang batin. Secara harfiah berarti DIA yang awal tidak ada yang mengawali, DIA yang akhir tidak ada yang mengakhir, DIA yang dhohir segala perbutan-NYA dan DIA yang bathin segala ciptaan-NYA. Namun itu baru batasan lahiriah. Hakekatnya bahwa DIA-Allah SWT itu ialah DIA yang awal dalam arti awal disini ialah dalam arti segala apapun yang mengawali Allah SWT. Contoh, Bapak mau mengambil minum, sebelum Bapak sampai mengambil gelasnya, itu yang mengawali Allah SWT bahwa yang menggerakkan ialah Allah SWT dan saat telah memegang gelas diakhiri oleh Allah SWT. Artinya ialah gerakan kita diawal dan diakhiri dari gerakan itu ialah Allah SWT dengan diawali basmalah dan diakhiri dengan hamdalah. Dalam pengertian basmalah ialah bahwa siapapun yang melakukan perbuatan tanpa diawali dengan bismillah (bukan membaca bismillah walau hadis ini bisa dimaknakan secara lahiriah yaitu dengan membaca bismillah) maka terputus berkahnya. Apabila diawali dengan bismillah, maka berlimpah berkahnya. Namun yang dikehendaki lebih dalam lagi makna dengan bismillah ialah dengan diri-NYA. Maka hakekatnya ialah kita sebenarnya menjadi wujud bismillah. Dhohiriahnya siapapun yang melihat apapun harus tau bahwa itu hakekatnya dari Allah SWT. Bathin, apa yang terhentak di dalam diri itu hakekatnya tidak lepas dari kontrol Allah SWT. Semuanya Allah SWT meliputi dan itulah yang disebut "Allah SWT meliputi pada tiap-tiap sesuatu". 
_______________


SALIKIN 
Apakah puasa akikah cukup sekali seumur hidup atau boleh diulang?

MURSYID
Boleh cukup sekali seumur hidup. Namun jika belum terasa ada efek dan manfaatnya maka boleh diulang setiap tahunnya, terlebih yang sedikit jumlah hitungannya atau misal sebelumnya puasa akikah namun tidak melaksanakan thoriqoh bismillah. Apabila salikin mengamalkan sesuai kaefiyat dengan baik dan benar maka tidak ada yang hidup terlunta-lunta dan kelaparan karena energi rizki itu benar-benar tertarik. Namun kadang salikin salah kaefiyat dengan kadang muncul kasal, muncul rasa keakuan. Semua kaefiyat yang telah dirangkum agar salikin mendapatkan kebahagian lahir dan batin yang berarti mendapatkan fasilitas dunia dan akhirat. Puasa akikah dibarengi dengan membaca doa sulaiman dan membaca bismillah sebanyak 786x dan Al-fatihah sebanyak 125x dan sebagainya. 
_______________


Dirangkum oleh : Himmah Hizboel