KHUTBAH SHALAT 'IDUL ADHA Pesantren Akmaliah Salafiah, Jum'at, 01 September 2017


Ahad , 03 September 2017

Khutbah Shalat 'idul Adha Pesantren Akmaliah Salafiah, Jum'at, 01 September 2017

Khutbah Shalat 'idul Adha Pesantren Akmaliah Salafiah, Jum'at, 01 September 2017


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Insya Allah, dipagi hari ini kita mendapatkan limpahan magfiroh dari Allah SWT, amin.

Semoga di pagi hari ini kita mendapatkan limpahan berkah dari Allah SWT, amin.

Semoga di pagi hari ini, kita mendapatkan rahmat dari Allah SWT, amin ya robbal alamin.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Di pagi hari ini kita semua bersama sama duduk bersimpuh hanya untuk menghadap kepada Allah SWT, untuk mencari ridho Allah SWT, hanya ingin mendapatkan cinta kasih Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan cinta kasih-Nya kepada kita semua, amin.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Hari ini seluruh umat Islam bersama sama  melakukan ibadah shalat idul adha setelah saudara saudara kita diam, berdoa, bertasyahud kepada Allah SWT bertalbiyah di Makkah al Mukarramah, teristimewa pada tanggal 9 Dzul Hijjah di Arafah. Semua itu hanya ingin mendapatkan cinta kasih dari Allah SWT karena memang tidak ada cinta yang paling istimewa dan sempurna kecuali cinta Allah SWT. Namun yang harus ditelusuri dan dicermati bahwa Allah SWT menyatakan cinta-Nya akan turun kepada orang orang yang berserah diri semuanya hanya kepada Allah SWT. Pertanyaannya ialah, sudahkah kita menyerahkan sepenuhnya kepada Allah SWT? Ini pertanyaan utama bagi kita karena Allah SWT sesungguhnya Ia selalu dan selalu mencintai orang orang yang berserah diri kepada-Nya. Persoalannya ialah benarkah kita semua sudah berserah diri sepenuhnya? Karena berserah diri itu bertingkat tingkat, tawakal itu bertingkat tingkat.

PERTAMA
Ada yang tawakal seperti kondisi keadaan seorang bawahan/karyawan terhadap atasan. Berserah diri disini masih ada pamrih baik dalam arti sesuatu untuk dirinya atau kepentingannya. Ini pun disebut tawakal dengan perumpamaan. Dan perumpamaan atau tamsil ini kebanyakan orang awam menyerahkan diri kepada Allah SWT ada pamrih pamrih tertentu kepada Allah SWT. Sebagai contoh ibadahnya pun ada pamrih, shalatnya ada pamrih, apa saja yang ia lakukan untuk Allah SWT walaupun ia menyatakan hanya untuk Allah SWT tetap saja ada pamrih. Tak ubahnya seperti tawakalnya bawahan kepada atasan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

KEDUA
Tingkatan tawakal kedua yang seyogyanya ada pada orang thoriqin tentunya sifat sifat mutawasith/ orang orang yang menuju kepada Allah SWT dimana berserah dirinya  itu kepada Allah SWT layaknya seorang anak berserah diri kepada orang tuanya. Semua itu dilakukan hanya untuk mencuri atau menarik perhatian, cinta kasih dari orang tuanya. Dan ini layaknya seorang salikin dan thoriqoh tawakalnya berserah diri kepada Allah SWT pada posisi mutawasith dimana tidak ada yang dicari dari Allah SWT kecuali mencuri perhatian, ingin mendapatkan kasih sayang Allah SWT karena memang cinta kasih yang hakiki hanya ada pada Allah SWT.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karenanya kita harus sadar penuh bahwa Allah SWT menciptakan kita karena cinta dan suka dikenal yang sesuai dengan firman Allah SWT dalam hadis qudsi :

‎كنت كنزاً لا أعرف، فأحببت أن أعرف فخلقت خلقاً فعرفتهم بي فعرفوني 

"Sesungguhnya Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi, karena Aku ingin dikenal,
maka Kuciptakan makhluk dan denganKu ia mengenalKu.”

Dengan kata lain bahwa Allah SWT tujuannya menciptakan manusia untuk mengenal diri-Nya. Maka manusia kewajiban/target utamanya ialah mengenal sang pecipta atau tuhannya. Manusia yang hidup di dunia sampai meninggalnya tidak mengenal tuhannya maka mereka seperti binatang dan matinya sia sia atau disebut matinya jahiliyah.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Apa sebab orang orang semacam itu? Ini kaitannya dengan firman Allah SWT : 

‎وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An Nahl : 78)

Aku jadikan untukmu pendengaran, penglihatan, hati atau akal semua Aku berikan kepadamu dengan demikian mudah mudahan kamu golongan orang orang yang bersyukur. Dengan kata lain kata syukur itu harus ditumbuhkan dalam diri kita baik syukur yang hakiki (yang ada di dalam diri) maupun syukur yang diluar diri yaitu syukur secara ritual/sakral/pengabdian maupun syukur secara sosial dalam kehidupan sehari hari. Ini harus dipahami oleh setiap orang orang yang menuju kepada Allah SWT. Jika diantara kalian tidak ada rasa syukur kepada-Nya maka sama saja kalian semua masuk dalam golongan orang orang yang disebutkan dalam firman Allah SWT أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ - Mereka itu sebagai binatang ternak (QS. Al Araf : 179).

Smoga kita semua terlepas dari semua itu amin amin ya robbal alamin.

Allah selalu menyatakan manusia itu seperti binatang karena memang di dalam diri kita ada sifat binatang. Jiwa kita berpotensi punya penyakit binatang atau disebut pula sebagai yang dijelaskan dalam al Quran أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ - Mereka itu sebagai binatang ternak.

Kalau Imam Ghazali menjelaskan sabuiyah dan bahimiah yakni binatang buas dan binatang ternak. Oleh karenanya disebut pula oleh para penyair dan para sastawan ahli tasawuf pun menyatakan bahwa manusia itu hayawan/binatang yang cerdas/berakal/berpikiran canggih atau cerdas. 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karena itu jika kita tidak bersyukur kepada Allah SWT maka jelas Allah SWT menyatakan sangat amat terang di dalam al Quran :

‎وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al Araf : 179)

Dipenuhinya neraka jahanam yang kebanykan dari bangsa jin dan manusia karena :

1. Ia diberi kan hati dan akal tidak untuk memperhatikan segala kenikmatan, anugerah, warid Allah SWT yang sampai kepada kita baik dalam arti sehat cerdas rizki yang berlimpah. Berbagai macam fasilitas yang telah disediakan Allah SWT apakah kita masuk golongan yang bersyukur atau tidak?

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

2. Mereka dikasih mata tidak untuk melihat kebesaran Allah SWT yang terhampar di alam semesta ini yang bisa dijadikan hikmah, yang bisa dijadikan sebagai guru kita, sebagai analisa, sebagai perantara untuk menjernihkan berbagai kotoran kotoran yang ada di dalam diri. Seperti kita melihat orang jahat tentunya kita melihat ke dalam diri semoga kita bukan golongan seperti mereka. Kita melihat orang orang yang shaleh tentunya kita berdoa semoga kita seperti dia. Itulah doa diakhir ayat dalam surat al fatihah yaitu mendapatkan nikmat seperti nikmat orang orang yang shaleh dan jangan seperti orang orang yang zhalim.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karena itu jika kita tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT ini disebut kufur bahkan Allah SWT menyatakan : 

‎وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim : 7)

Namun jika ingkar dengan nikmatku, ingat azabku itu sangt pedih.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

3. Diberikan telinga tidak mendengarkan firman Allah SWT, tidak untuk mendengrkan hadis Rasul, fatwa Mursyidnya, nasehat nasehat orang tua atau orang yang lebih tua dan inilah tanda tanda orang yang sudah keras hatinya dan mati hatinya. Orang yang telinganya ditutup pendengrannya oleh syaitan dan iblis. Maka orang orang semacam ini yang tidak mau mendengarkan firman Allah SWT, fatwa Mursyid, nasehat semua ini disebutkan 3 hal yang ada pada  manusia mereka itu seperti binatang bahkan lebih rendah lagi dari bintanag dan mereka itulah orang orang yang lalai.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karena di dalam diri kita ada sifat binatang atau potensi kebinatangan ternak maupun binatang buas maka Allah SWT  meletakkan, menurunkan, menganjurkan ibadah nusuq yaitu ibadah yang salah satu contohnya ialah qurban di bulan hajj setelah shalat idul adha atau di hari-hari tasyrik. Ini adalah salah satu solusi dimana kita menundukkan, menyembelih dan menghancurkan nafsu nafsu binatang dalam diri. Apabila qurban dipotong oleh orang orang yang arif maka bersyukurlah karena hakekatnya yang dipotong adalah nafsu yang ada dalam dirinya ialah nafsu binatangnya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Jadi, niatkan kalian salam taqqarub atau mendekatkan diri kepada Allah SWT, dalam mempersembahkan kepada Allah SWT sebagai nikmat dari Allah SWT dan kembali kepada Allah SWT dan semua untuk Allah SWT dan kita hanya mengharapkan cinta kasih dari Allah SWT. Serahkan sepenuhnya qurban kita kepada Allah SWT dan tidak ada istilah kita sudah berqurban tahun lalu. Dimana ada kesempatan dan kelebihan disitu Allah SWT memberikan keberkahan maka syukuri dengan cara melebihkan mempersembahkan hanya kepada Allah SWT dengan berqurban. Qurban hakiki ialah memotong nafsu dalam diri. Inilah yang dikehendaki dalam hadis :

"Matikan dirimu sebelum kamu mati"

Maksudnya ialah matikan nafsumu, sembelih nafsmu yakni nafsu binatang kita sebelum kita mati, sebelum dihisab dan sebelum kita sampai kepada Allah SWT. 

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Memang nafsu kita ada yang perlu dikendalikan dam ada yang perlu dibunuh. Kalau sudah berbicara nafsu nafsu yang sangat ekstrem seperti nafsu lawwamah dan sawwalat itu tidak ada toleransi selain dibunuh. Jika kaitan dengan ammarah maka nafsu binatang buas kita bunuh sedangkan yang sifatnya binatang ternak untuk memelihara diri hanya cukup dikendalikan.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, wa lillahil hamd

Oleh karenanya mari kita bersama sama berquban hanya untuk Allah SWT dari Allah SWT untuk Allah SWT sebagaimana doa dalam qurban :

‎اَللَّهُمَّ هَذِهِ مِنْكَ وَإِلَيْكَ فَتَقَبَّلْ مِنِّيْ يَا كَرِيْمُ

Ya Tuhanku, hewan ini adalah nikmat dari-Mu. Dan dengan ini aku bertaqarrub kepada-Mu. Karenanya hai Tuhan Yang Maha Pemurah, terimalah taqarrubku.

Semoga semua ibadah masuk golongan yang diterima oleh Allah SWT. Semoga qurban kita diterima oleh Allah SWT.