RANGKUMAN KHUTBAH JUM'AT MURSYID AKMALIAH, 03 November 2017


Jumat , 03 November 2017


Pesantren Akmaliah Salafiah
Jumat, 03 November 2017

_______________

Kita harus instropeksi, harus mawas diri sejauhmana perjalanan hidup kita didalam mengabdi kepada Allah SWT. Intinya ialah sebagai seorang hamba yang ditugaskan oleh Allah SWT sebagai khalifah.

Sebagaiman firman Allah yang tertulis di dalam Surat Al-Baqarah Ayat 30 : 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Khalifah yang dimaksud ialah manusia. Maka sadar atau tidak kita dijadikan oleh Allah pemimpin di muka bumi ini. Pemimpin mulai dari memimpin diri kita sendiri, memimpin istri, keluarga, anak bahkan sampai menjadi pemimpin lingkungan suatu desa, provinsi, negara. Pemimpin dimana ia adalah diikuti oleh para pengikutnya. Dimana pemimpin tersebut bisa mensejahterahkan, memberi keselamatan dan juga perlindungan. Namun bukan hanya sebatas di dunia melainkan ia pun bisa menyelamatkan di akhirat. Menyelamatkan dengan syafaatnya, menyelamatkan dengan doanya dan berbagai macam cara menyelamatkan sesuai dengan kehendak Allah SWT. Itu lah pemimpin yang disebut khalifah fil 'ard.

Pemimpin itu menjadi uswatun hasanah, contoh yang paling baik. Di dalam perjalanan manusia. Tidak ada pemimpin di muka bumi ini yang berakhlaqkul karimah, memiliki akhlak yang agung selain Rasulullah SAW yang diikuti oleh para warosatul anbiya dan para kekasihnya. Oleh karena itu, tidak ada orang yang bisa menyatakan dirinya, mengklaim dirinya menjadi orang islam atau orang yang beragama sebelum nyata benar dirinya itu memiliki akhlak yang mulia. 

Oleh karenanya didalam hadist, Rasulullah –shallallâhu ‘alayhi wa sallam- bersabda:

‎إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأََخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. [HR. Ahmad, Hakim, dll]

Hadist ini dapat digarisbawahi bahwasannya inti dari agama itu ialah akhlaq. Orang yang mengamalkan ilmu agama ialah berakhlaq. Kalau ada orang yang menyatakan dirinya beragama tetapi tidak berakhlaq maka itu hakekatnya ialah bukan orang yang beragama. Karena orang yang beragama itu orang yang berakhlaq, yang mempunyai akhlaqul karimah.

Perhatikan kisah-kisah didalam Al Quran. Semuanya mempunyai akhlaqul karimah, memiliki tatanan hidup, etika yang sangat bagus, yang benar-benar dicintai oleh umatnya, dicintai oleh keluarganya, bisa dijadikan contoh. Sampai pula Rasulullah SAW menyatakan di dalam riwayat lainnya bahwasannya "Dicintainya islam, didatanginya islam itu bukan karena apapun melainkan akhlaq, sifat diantara para sahabat-sahabat". 

Salah satu seruan Allah SWT di dalam Al Quran terkait akhlaq ialah mengenai shalat. 

‎إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
"(Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku) di dalam salat itu". (Q.S Thaha : 14)

Allah SWT menyuruh untuk “أَقِمِ/mendirikan” shalat BUKAN hanya “mengerjakan” shalat. Kata mendirikan disini hanyalah bahasa kiasan/metafor. Targetnya shalat itu ialah untuk mencegah perbuatan keji/penyakit hati dan mungkar. Sebagainana yang tertuang didalam firman Allah SWT Surat Al-'Ankabut Ayat 45 :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Bahwasannya orang yang mendirikan shalat itu akan mencapai pada derajat bisa/dapat mencegah perbuatan fakhsah dan mungkar. Fakhsah itu ialah penyakit yang ada didalam hati. Sedangkan mungkar itu perbuatan yang terlihat dengan nyata. Dengan kata lain, orang yang mendirikan shalat dengan baik dan benar sesuai dengan perintah Allah maka ia akan sampai pada target shalat yaitu mencegah perbuatan yang keji dan mungkar. 

Orang yang sudah tercegah atau sudah tidak ada di dalam dirinya fakhsah dan mungkar maka ia memiliki akhlaq, sifat mahmudah atau sifat-sifat yang terpuji. Kalau sudah disebut sifat yang terpuji maka kata lainnya ialah muhammad/ahmad yang artinya terpuji. Maka orang yang disebut muhammad/ahmad ialah orang-orang yang terpuji maka ialah yang bisa dijadikan uswah, bisa dijadikan contoh.

Lalu shalat yang bagaimana yang dapat mencegah semua itu dan mencapai pada targetnya sesuai dengan al quranul karim? Yaitu shalat yang baik dan benar, baik dalam arti syarat masrutnya, benar dalam arti caranya.

Kalau kita hubungkan pengertian secara lisan arab atau dalam bentuk lughoqi, shalat/صلاة itu artinya hubungan. Ayat perintah shalat diturunkan sebelum Rasulullah SAW menerima perintah shalat dalam peristiwa isra mikraj oleh karenanya yang dimaksud shalat disitu ialah berhubung (mengingat) dengan Allah SWT dalam segala hal. Berarti shalat yang benar apabila selalu konekting/ berhubungan dengan Allah SWT. Orang yang sudah selalu berhubungan dengan Allah SWT dialah yang disebut ihsan.

‎قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »

 “’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak bisa beribadah seolah-olah melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim).

Kata menyembah itu bukan shalat saja tetapi mengabdi menyembah dalam arti nunut manut ikut apa yang disuruh oleh yang disembah. Makanya ada ibadah pengabdian secara ritual dan sosial. Secara ritual ialah ibadah-ibadah sakral seperti shalat, puasa, zakat, dll. 

Hal tersebut ada kaitan dengan konekting antara hamba dengan tuhannya. Berarti dengan kata lain, orang-orang yang akhlaq nya sudah mulia, akhlaq nya sudah istimewa, orang yang shalatnya benar ialah orang yang selalu mengadakan hubungan dengan Allah/berkonekting dengan Allah. Kalau orang itu sudah selalu berhubungan dengan Allah maka meyakini bahwa Allah selalu mengawasi dirinya, Allah selalu ada dimana saja dan pasti akan memiliki akhlaqul karimah. Itu lah yang disebut hakekat ihsan.

Maka ciri atau khas orang yang beragama ialah dia mempunyai AKHLAQUL KARIMAH sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW dan juga firman Allah SWT. 

_______________

Dirangkum oleh : Hani Hizboel