RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA), 16 February 2018/01 Jumadits Tsani 1439H


Sabtu , 17 Februari 2018


RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 16 February 2018/1 Jumadits Tsani 1439H
_______________

 

Telah dibahas uraian mengenai orang orang yang menuju kepada Allah SWT yang dinyatakan pada kalam hikmahnya bahwa tidak ada jarak untuk ditempuh antara dirimu dengan diri-Nya begitu juga tidak ada dirimu terputusdengan tuhanmu yang akhirnya harus disambungkan atau dihubungkan. Andai saja tidak ada medan nafsu yang menjadikan tempat untuk seorang yang menuju kepada Allah SWT untuk melawan hawa nafsu (jihadul akbar, jihadun nafsi) maka niscaya orang orang yang menuju kepada Allah SWT dengan orang biasa nyaris tidak terlihat dengan jelas. 

Ini masalah niat dan persoalan yang terkait dengan wilayah batiniah. Jika sudah berbicara wilayah batiniah maka sulit untuk memvonis seseorang dengan kondisi dan keadaan lahiriah. Yang harus dipahami ialah bagaimana sikap kita menuju kepada Allah SWT yang dengan kata lain mengenal dan memahami posisi atau maqom kita, sadar akan diri kita. Sudahkah kita mengabdi kepada Allah SWT dengan baik dan benar? Sudahkah kita beribadah dengan baik dan benar? Sudahkah melaksanakan tanggung jawab sebagau suami/istri/anak/guru/ murid dst? Disini dinyatakan bahwa menuju kepada Allah SWT harus mempunyai seorang pembimbing. Bahkan dijelaskan di kitab lain ialah mencari seorang mursyid adalah wajib bagi orang yang mempunyai kehendak menuju kepada Allah SWT. Dan apabila sudah mengenal dan tau bahwa ia adalah Mursyid dan akan dijadikan mursyid maka diri kita siap menyerahkan sepenuhnya karena terkadang seorang mursyid itu lebih tau tentang diri kita ketimbang diri kita sendri. 

Yang paling utama ialah adab. Dengan adab itu akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Disini diterangkan, contoh dalam pengamalan muamalah, bahwa barang siapa yang tidak mengambil adanya daripad suatu pekerjaan baginya sekurang kurangnya ia melihatnya akan dia artinya disini barangsiapa yang dalam sebuah amalan ibadah atau apa saja tanpa izin mursyidnya itu adalah murid yang tidak beradab dan muamalahnya tidak akan bermanfaat. 

Begitu juga dikatakan bahwa mengambil adab daripada segala adab itu niscaya membinasakan ia akan orang yang mengikut akan dia. Maksudnya ialah adab yang paling benar ialah dimana kita memfanakan diri kita/menggugurkan apa yang ada dalam diri kemudian kita behadap hanya pada yang dihada. Oleh karenanya jika sudah menuju kepada Allah SWT jangan menengok ke kanan, kiri apalalgi ke belakang. 

Tanda tanda orang yang terpuji karena adabnya ialah akan muncul pada dirinya akhlaqul karimah yang merupakan hasil dari ilmu yang bermanfaat. Orang yang tidak beradab dalam menuntut ilmu maka ilmunya tidak akan bermanfaat dan tidak akan memancar aklaqul katimah. 

Mu’alif mengatakan :
“Allah sengaja menempatkan/menjadikan dirimu di dalam alam pertengahan antara alam mulk/dunia dan alam malakut/ghaib untuk memberikan kepadamu pemahaman, pengetahuan tentang kebesaran kedudukan mu diantara semua mahluk dan bahwa dirimu sebagai permata yang dikelilingi tempat yang berupa alam ini” (Hikam Nomor 247)

Pertama tama Allah SWT menjelaskan bahwa :


‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzaariyat ayat 56)

Tidaklah Aku jadikan manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada-Ku. Kemudian Allah SWT sengaja juga menjadikan alam dunia sebagai fasilitas untuk kita sebagaimana di jelaskan di dalam firman-Nya :


‎كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا


makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, (QS. Al Baqarah ayat 168)

‎قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ


Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (QS. Al araf ayat 32)

Dia yang menjadikan untuk kamu semua apa saja yang ada di bumi ini makan dan minumlah apa saja yang ada di bumi ini.
Siapa yang melarang perhiasan yang telah disediakan Allah SWT untuk kalian kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan telah dicontohkan oleh Rasul-Nya. 

Persoalan disini ialah kita diciptakan oleh Allah SWT atas dasar apa? Allah menyatakan dalam hadis qudsi : 

‎كُنْتُ كَنْزًا مُخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرِفَ فَخَلَقْتُ   الْخَلْقَ    فَبِي    يَعْرِفُنِي


“Aku adalah satu perbendaharaan yang tersembunyi, maka aku suka akan bahwa dikenalkan orang, maka aku jadikan sekalian mahluk, maka dengan Aku ia mengenal Aku”.

Maksudnya ialah Aku adalah zat yang tidak bisa dianalisa oleh akal yang disebut zat wajibul wujud (zat wajib adanya) dan yang lain ialah zat jaizul wujud (boleh ada, boleh tidak). Allah SWT menyatakan sebagai diri perbendaharaan yang tersembunyi.

Kanzan disini ialah yang sangat amat rahasia/yang sangat luas karena yang dimaksud kanzan islah alam qodim yang merupakan diatasnya titik ba. Jika sudah Berbicara bismillah, sebelum titik ba bismillah itulah yang disebut alam qodim (ahdiyat, wahdah, wahdiyat). Pada proses kejadian tersebut mulai dari alam yang disebut zat yang pada masa itu kosong tapi isi, isi tapi kosong (ahdiyat). Kemudian MARTABAT KEDUA yaitu masa khitob yaitu Ta’yun awal (kenyataan yang pertama) yang ada khitob HAKEKAT NUR MUHAMMAD itulah awal mula ada “cinta” dimana ada cinta antara yang mengkhitob dan yang dikhitob. Maka awal mula sebelum alam ini disebut hakekat nur muhammad atau disebut juga hakekat ruh idhofy. Disebut Ta’yun awal ialah nyata pada awal mula yang ada adalah NUR yang disebut HAKEKAT NUR MUHAMMAD (bukan Muhammad bin Abdillah) yaitu hakekat nur yang terpuji yang merupakan wujud hakekat cinta. Oleh karena orang yang istimewa disebut Waliyulloh, Habibulloh, Shodiqulloh. Habibulloh merupakan ujung tombak yang bisa ke alam mulk dan alam malakut. Saat Ta’yun awal, belum ada alam semesta. 

Martabat KETIGA ialah Ta’yun Tsani (kenyataan yang kedua) yang ada lauhul mahfudz. Lauh artinya papan, mahfudz artinya yang dapat menyimpan semuanya. Lauhul mahfudz hanya bisa dilihat oleh yang bisa melihat. Bapak istilahkan kepada kalian ialah “kitab kosong” namun jika tidak bisa membacanya tetap melihatnya kosong. Kosong tapi isi, isi tapi kosong. Dalam Ta’yun tsani, zat wajibul wujud nyata pada zat jaizul wujud (bukan dalam makna dua) yang membuat skenario kehidupan alam semesta mulai dari awal sampai akhir yang disebut takdir. Dalam pemahaman umum takdir dibagi dua yaitu takdir muallaq (takdir yang bisa diubah) dan mubram (takdir yang tidak bisa diubah). Kalau Bapak menjelaskan kepada kalian ada 3 takdir yaitu TAKDIR ULA, TAKDIR WUSTHO, TAKDIR UKHRO.

TAKDIR ULA yaitu skenario secara global yang dinyatakan dalam kitab lauhul mahfudz dimana kitab itu menjadi kanzan mufian/pemendaharaan yang tersembunyi. Bukti pembendaharaan yang tersembunyi ialah dirgantara kita dimana secara kasat mata tidak terlihat namun jika melihat dengan syuhud dan musyahadah kalian akan melihat dengan jelas bank data. Contoh nyata, adanya telp, tv yang melalui frekuensi. Di alam qodim terjadi proses penulisan rencana skenario besar alam semesta sampai akhirnya dituangkan dalam alam hudus  (alam baru) sebagai awal mula kejadian. Alam hudus ada yang disebut alam arwah, alam mitsal, alam ajsam yang ditempatkan oleh Allah SWT yang menjadi Alam semesta pada tempat masing masing. Alam arwah yang jauh dari kita, alam mitsal juga ghaib, sedangkan alam ajsam ialah alam yang nyata. Sementara mu’alif menyebutkan kita diletakkan di alam pertengahan antara alam mulk dan malakut. Mamusia sebagai mutiara atau central atau tempatnya mahluk lain iri karena paling istimewa dan diistimewakan. Oleh karenanya Allah SWT menjadikan manusia sebaik baik kejadian. Namun apabila manusia tidak menghargai kebaikan Allah SWT dann kejadian yang sangat baik, maka Allah SWT akan mengembalikkan derajatnya ke derajat yang serendah rendahnya.

Setelah memahami alam hudus itu ada 3 dimana kita diletakkan di alam ajsam ini sebagai alam pertengahan. Walau bumi paling kecil di alam semesta namun istimewakan. Sengaja Allah SWT memuliakan seluruh mahluk yang bernama manusia “Dialah Allah yang telah memuliakan anak cucu adam” ran tidak terkecuali, entah dia dilahirkan dalam kondisi keluarga majusi, nasrani, yahudi atau dari etnis manapun. Mulia disini maksudnya adalah sebagai sebaik baik kejadian diantara mahluk lain. Kemudian Allah SWT mengangkat derajatnya lebih tinggi lagi yaitu orang orang yang berilmu baik ilmu lahir maupun ilmu batiniah, mulai dalam arti ilmu science maupun ilmu agama. Semua ilmu diturunkan oleh Allah SWT dan terkadang Allah SWT menurunkan ilmu science/lahiriah kepada orang yang tidak beriman namun derajatnya lahiriahnya tetap diangkat (bukan ruhaniahnya). Kemudian ilmu agama ialah kepada orang orang yang diistimewakan oleh Allah SWT yaitu orang orang yang lepas hatinya dari dunia (zuhud), orang orang ahli hikmah atau hukum dimana ia dengan perkataannya mampu menyalurkan dan menyampaikan energinya melalui kata kata, orang orang yang dimuliakan yang mempunyai karomah/keistimewaan. Yang lebih istimwa lagi ialah orang orang yang diberi kesempatan mengenal zat, sifat, asma, af’al Allah SWT dan itulah yang disebut kekasih kekasih Allah SWT yaitu yang berstatusnya Habibulloh, Waliyulloh atau Shodiqulloh. 

Kita ada di alam yang disebut permata kemudian disuruh mengabdi kepada Allah SWT baik pengabdian umum (sosial) maupun khusus (ritual/ibadah). Semua itu Allah SWT turunkan dan sediakan fasiliasnya. Allah SWT menurunkan manusia sebagai khalifah fil ‘ard atas dasar :

‎كُنْتُ كَنْزًا مُخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرِفَ فَخَلَقْتُ   الْخَلْقَ    فَبِي    يَعْرِفُنِي


“Aku adalah satu perbendaharaan yang tersembunyi, maka aku suka akan bahwa dikenalkan orang, maka aku jadikan sekalian mahluk, maka dengan Aku ia mengenal Aku”.

Maka dengan kata lain Allah SWT menciptakan mahluk ini atas dasar cinta sejak awal. Maka yang ada itu cinta. Namun bukan dalam arti cinta yang hanya sebatas lambang hati namun cinta dalam arti seluas luasnya. Atas dasar cinta Allah SWT menjadikan kita. Kita kemudian dijadikan khalifah yang tugas utamanya sebagai mahluk ialah mengenal siapa yang menciptakan yang berarti tugas kita ialah mengenal Allah SWT/berjumpa dengan tuhannya. Oleh karenanya barang siapa yang hidupnya belum mengenal tuhannya maka matinya saja mati jahiliyah karena disebutkan dalam hadis disebutkan “awaluddin ma’rifatullah” atau awal mula beragama ialah mengenal Allah SWT. Dalam kitab kitab tertentu dalam maqolanya disebutkan “tidak sah ibadah seseorang yang tidak mengenal siapa yang disembah”. 

Jika kalian tidak ibadah berarti kalian putus asa yang berarti lebih buruk daripada kalian ibadah itu sendiri. Walaupun dinyatakan tidak sah ibadah yang tidak mengenal siapa yang disembh sekalipun tidak mengapa yang penting shalat, lama lama juga akan mengenal-Nya. Oleh karenanya, beribadahlah terus. Jika kalian dalam kondisi ibadah walau akhirnya tidak mengenalnya maka saat mati masuk golongan matinya mati syahid. Namun bagi yang tidak berjuang dengan ibadah maka tidak masuk mati syahid. Oleh karenanya tetaplah ibadah walau belum mengenal karena tugas kita ialah mengenal yang mencipta melalui proses. Kita diletakkan di alam pertengahan antara alam mulk/dunia dan alam malakut/mitsal. Jadi, kita ada di alam mutawasith. Oleh karenanya kita disebut umat yang pertengahan. Disebutkan manusia sebaik baik mahluk, sebaik baik kejadian. Oleh karenanya keluarlah kamu dari kenistaan dan masuk kepada kemulyaan. Itu merupakan proses dan tugas dimana kita harus keluar dari kenistaan dan masuk ke kemulyaan sebagai fitrah manusia yaitu hadapkan dirimu kepada agama yang lurus yang hanif. Fitrah Allah SWT ada pada diri kalian yaitu bahwa manusia itu insan dimana fitrahnya beragama tauhid dan syariatnya ialah islam oleh karenanya sejak dulu kalimatnya selalu “Laa Ilaha Illallah”. Apabila kalian tidak dengan cinta maka tidak akan bertemu Allah SWT. 

Cinta melampaui dari kesenangan hasrat. Akhirnya kita mengukur diri apakah sudah mencintai shalat, zakat, puasa dan seluruh perintah Allah SWT? Jika sudah cinta maka tidak ada rasa malas, sungkan, enggan, jemu karena cinta mengalahkan semuanya. Oleh karenanya kaliah harus bersungguh sungguh dalam 3 perkara :
1. Mujahadah memerangi untuk mendapatkan diri kalian menjadi orang yang bertaqwa.
2. Mujahadah untuk berjuang agar istiqomah karena istiqomah lebih baik daripada 1000 karomah. Apapun yang kalian lakukan jika tidak istiqomah maka tidak akan Jadi baik dalam hal Ibadah maupun muamalah. Pekerjaan kecil bisa menjadi besar jika istiqomah. Istiqomah tidak membutuhkan hasil tetapi menumbuhkan cinta. Munculnya cinta karena membiasakan apa saja. Jadi kalian harus mujahadah dalam istiqomah.
3. Mujahadah untuk bisa terbuka di dalam melakukan apa saja. Terbuka disini ialah menemui/tajalli. Seperti shalat sampai menemui rasa shalat. Caranya ialah takholli, tahalli, tajalli. Yaitu mengosongkan sifat sifat buruk (takholli) dan kemudian mengisinya dengan sifat sifat yang baik (tahalli). Setelah itu tajalli/kasyaf terbuka menemukan apa yang dicari. Proses itu melalui mujahadah, tidak bisa instan. Hidup itu perjuangan. Dalam perjuangan ada resiko dan di dalam resiko ada ujian dan cobaan baik lahiriah maupun batiniah. Ujian lahiriah terlihat sedangkan ujian batiniah tidak terlihat karena berselimut dalam diri seperti rasa malal, kasal, futur. Itu merupakan perjuangan kalian untuk terus dilawan. 
_______________
Dirangkum oleh : Himmah Hizboel