RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA),09 Maret 2018/22 Jumadits Tsani 1439H


Ahad , 11 Maret 2018


RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 09 Maret 2018/22 Jumadits Tsani 1439H
_______________

 

Orang orang yang belum terbuka tentang wilayah ghaib/ruhaniah masih tetap terbelenggu dengan wilayah ruhaniah.

Yang harus kita pahami disini ialah posisi diri kita sebagai hamba Allah SWT dimana hamba itu tidak lepas dari keterikatan kehambaan yang harus mengabdi kepada Allah SWT. Jangan sampai kita melampaui batas karena terbawa oleh arus angan pikir atau imajinasi atau apapun yang akan membuat diri kita tersesat. 

Setelah kita pahami bahwa diri kita sebagai hamba yang tidak akan lepas dari ekosistem kehidupan yang terkait dengan wilayah duniawiyah maka Mu’alif menjelaskan kembali tentang : 

“Engkau atau dirimu tetap terkait dengan situasi kondisi keadaan ekosistem alam dunia ini selama dirimu belum melihat yang mencipta” (Hikam Nomor 250)

Maka apabila engkau belum melihat hakekat pencipta alam ini (Allah SWT) maka engkau tetap terikat oleh situasi urusan duniawiyah. 

Bahwa dirimu akan tetap terikat oleh alam semesta ini selama dirimu blm melihat yang menciptakan alam ini. Tetapi apabila dirimu telah melihat keelokan wujudullah maka alam ini tentunya akan tunduk bersamamu.

Ini persoalan yang sangat sulit bagi orang orang yang berjalan menuju kepada-Nya. Sesulit apapun apabila patuh dalam bimbingan maka tidak akan ada masalah. Sama halnya seperti kita ikut rombongan supir maka ikut apa kata supir dan yang paling utama adalah jangan mengganggu pikiran supir itu.

Intinya ialah bahwa kita menuju kepada Allah SWT harus istiqomah, nunut manut. Jika ada orang yang menuju kepada Allah SWT dengan kreatifitasnya sendiri maka ia akan tersesat di jalan yang terang. 

Bahwa selama dirimu masih terikat denga kebendaan, situasi, kondisimu maka selama itu pula dirimu tidak akan melihat keelokan wujudullah. Berbeda dengan orang yang telah melihat keelokan wujudullah maka ia tidak terikat dengan duniawiyah. 

Intinya kita harus kembali ke dalam diri masing masing. Sejauh mana perjalanan kita selama ini di dalam kesungguhan menuju kepada Allah SWT. Ini terkait dengan cinta. Apabila kita tidak mempunyai cinta maka tidak akan sampai jua. Artinya meletakkan apapun harus dibawah-Nya. Jangan sampai setara dengan cinta kepada Allah SWT. Kita adalah orang orang yang bersungguh sungguh menuju kepada Allah SWT dimana kita memperhatikan wilayah batiniah kita. 

Hadis riwayat Abu Hurairah ra :
Aku diberi ilmu oleh Rasulullah SAW 3 kantong :

  1. Bagian ilmu lahiriah yaitu terkait fiqih yang diberikan juga kepada orang orang lahiriah.
  2. Bagian ilmu yang terkait batiniah tidak akan aku berikan melainkan kepada ahlinya yaitu orang orang ang sungguh sunggug menuju kepada Allah SWT. 
  3. Bagian ilmu antara aku dan tuhanku tidak akan aku berikan kepada lainnya. 

Begitu juga kita apabila kita menerima sesuatu yang istimewa maka itu rahasia dirimu dengan tuhanmu yang tidak harus diungkapkan kepada bukan ahlinya. Yang termasuk ahlinya ialah :

  1. Orang yang sunyi hatinya yaitu orang yang sudah tidak terikat dengan wilayah duniawiyah.
  2. Kepada Mursyidnya untuk pentashihan. Tidak menjadikan ilmu sebagai wacana agar dianggap gagah dalam ilmu (sum’ah) dan ini tidak diperkenankan.

Selama engkau masih terikat dengan kebendaan/terpenjara dengan duniawiyah maka selama itu pula engkau tidak dapat menyaksikan keelokan wujudullah. 

Jangan bermimpi akan bisa ma’rifah sementara hati kalian masih terpenjara dengan dunia. Terikat dengan kebendaan maksudnya ialah dimana kalian masuk kepada wilayah tersebut dan terkait erat dengan hati kalian yaitu cinta seperti mencintai benda di sekeliling. Allah SWT telah mensinyalir terhadap hamba hamba-Nya dalam QS. Ali Imran ayat 14 :

‎زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Sudah menjadi fitrah dalam diri manusia ada rasa suka dan senang atas keindahan yang menjadi syahwati/yang menggairahkan yang akhirnya menyebabkan lupa kepada Allah SWT yaitu :

PASANGAN, dalam ayat tersebut wanita namun maknanya ialah pasangan. Yaitu ada sebuah gairah seperti halnya gairah suami kepada istri atau sebaliknya. Begitu juga ada gairah terhadap anak yaitu senang melihat anak sehat/cerdas/lainnya. Dengan kata lain gairah terhadap keluarga (anak, suami/istri). Hal ini terkait dengan firman Allah SWT dalam QS. At Thagabun ayat 15 :

‎إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Mengumpulkan HARTA BENDA dari jenis yang mewah (emas) maupun sederhana (perak). Sadar atau tidak kita dipaksa melihat situasi hingga akhirnya paranoid untuk masa depan yang akhirnya tidak mengembalikan semua kepada Allah SWT padahal yang menjaga dan memberikan rizki ialah Allah SWT.  Pada hakekatnya kita adaah hanya sbagai “alat” Allah SWT untuk mengalirkan rizki Allah SWT untuk anak/istri/orang lain. Keterikatan kita dengan situasi atau benda itu yang menjadi persoalaan menuju kepada Allah SWT. Mengumpulkan harta benda boleh bahkan disebukan dalam hadis : 


“Bekerja untuk duniamu seolah tak akan mati selamanya namun beramal akhiratnya seolah kamu akan mati”.

Yang berarti harus seimbang. Jika sudah pada wilayah ruhaniah maka jangan terbawa arus duniawiyah. Manusia jika sudah terkontaminasi sesuatu maka sulit untuk menetralisirnya. Jika kita sudah berjuang untuk masa depan anak dan keluarga maka untuk masuk ke wilayah ruhaniah akan berat maksudnya ialah sulitnya untuk mengembalikan bahwa hakekay yang memelihara anak istri suami itu adalah Allah SWT. Oleh karena itu jika sudah mulai tau bahwa kita memang harus berjuang dalam urusan dunia maka kita harus tetap wiqoyatullah/dalam wilayah ketuhanan/selalu dalam kehendak-Nya/selalu ada mengalir di jalan-Nya. Jika tidak maka akan terkontaminasi karena lupanya kita kepada Allah SWT. Di dalam Al-Qur’an yang diutamakan ialah kebahagian ruhaniah. Di dalam mengumpulkan dunia manusia sudah erosi dalam keimanan karena mengumpulkan dunia bukan untuk ibadah. Boleh mengumpulkan harta benda namun jangan sampai terkontaminasi dengan rasa ketakutan ketakutan akan masa depan. Boleh ikut asuransi namun sikap hati jangan terkontaminasi. Jadi, yang benar adalah bekerja untuk bekal ibadah bukan untuk bekal masa depan. Makan untuk bekal ibadah yaitu sekedar menegakkan tulang belakang agar bisa ibadah.

Jadi fitrah manusia sudah ada rasa suka/bergairah kepada keluarga dan mengumpulkan harta benda bahkan kendaraan yang bagus (kuda pilihan) atau merawat sawah ladang (pekerjaan/bisnis). Persoalannya apakah semua itu kita gunakan/diniatkan untuk menuju kepada Allah SWT? Allah SWT menyatakan pada akhir ayat : 


“Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)”.

Itu hanya kehidupan dunia dan kembali kepada Allah SWT itu yang paling baik dengN kata lain keterikatan kalian kepada dunia tidak akan menjadi masalah apabila dikembalikan kepada Allah SWT. Dalam hadis disebutkan :

‎إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ 

“Dunia itu terlaknat dan segala yang terkandung di dalamnya pun terlaknat, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah, yang melakukan ketaatan kepada-Nya, seorang ‘alim atau penuntut ilmu syar’i.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Jadi bukan berarti kita harus pergi dari dunia namun bagaiaman kita siasiati dunia agar tidak tersesat yaitu dengan menapaki jalan tersebut yaitu di jalan Allah SWT. 

Keterikatan dengan benda benda dunia sekaligus menjadikan hijab untuk melihat sang pencipta. Tetapi jika sudah melihat pencipta maka tentu tidak akan terikat dengan benda benda tersebut.

Apakah kalian mencintai agamamu sudah sama dengan apa yang ada disekitarmu?
Apakah cintamu pada agamamu sudah melebihi dari segala apapun yang ada disekitar mu termasuk melebihi cintamu kepada dirimu?

Selama masih terikat dengan situasi (syahwat atas dunia) maka akan sulit menjawab pertanyaan tersebut. 

Kalam hikmah Mursyid Akmaliah :
Barang siapa yang ingin dicintai Allah SWT maka jangan mencintai selain diri-Nya. Jika mencintai selain diri-Nya maka tidak akan kalian berjumpa dengan Allah SWT. 

Jika kalian masih terikat dengan kebendaan maka tidak akan kalian melihat keelokan wujudullah tetapi jika kalian telah melihat keelokan wujudullah maka benda benda itu tunduk pada kalian dengan kata lain kalian tidak diperbudak oleh benda benda tersebut. 

Yang harus ditengarai disini ialah siapapun yang mencintai Allah SWT pasti mencintai keluarganya. Namun orang yang mencintai keluarga belum tentu mencintai Allah SWT. 
Analogi:
Siapapun yang mencintai istri pasti akan mengikuti keinginan istri. Begitu juga apabila kalian mencintai Allah SWT maka kalian akan mencintai keluarga karena kalian menjadi tangan tangan Allah SWT dalam mengalirkan ilmu maupun rizki Allah SWT. 

Berbeda dengan orang orang yang istimewa yang telah sampai kepada Allah SWT yaitu orang orang khusus yaitu para Arifin Billah/Aulia yang telah terbuka hijabnya. Bagi orang awam maka ditutupi oleh 70.000 hijab. Yang menghijabi ialah diri kita atau sangka kita karena keterikatan dengan benda benda itu. Allah SWT tidak terhijab tetapi zhon zhon kita yang menjadi hijab. Tidak mungkin kalian terhijab jika kalian tidak terikat. Oleh karenanya lepaskan keterikatan itu seperti para airfin Billah, Aulia. Tanda mendapatkan anugerah Allah SWT ialah kita mampu melepaskan keterikatan duniawiyah. Namun kendatipun seorang wali yang sudah terbuka sekalipun dan mempunyai kekhususan menyatakan itu menjadi hijab pula. Hijab yang paling utama ialah saat kalian melihat situasi yang terdekat seperti kedekatan dengan keluarga atau Mursyid. 

Sifat-sifat khusus pada para aulia yang telah sampai yang Begitu istimewa dan diistimewakan Allah SWT dimana ia telah terbuka atau tidak terikat dengan kebendaan kebendaan bukan berarti lepas begitu saja. Tetap ia akan kembali pada sifat basharinya. Seperti Rasulullah SAW dimana sifat khususnya pada wilayah ruhaniah bukan bashariah. Kalau wilayah bashariah harus dinyatakan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Kahfi ayat 110 bahwa “aku manusia biasa seperti kamu (bashariahnya)”. Saat melihat bashariahnya maka itulah hijab. Namun jangan juga serta merta hanya melihat wilayah ruhaniahnya sehingga lupa akan wilayah bashariahnya. 

Para nabi, aulia, arifin billah mempunyai sifat-sifat khusus atau yang istimewa yang berbeda dengan kita. Namun mereka juga ada wilayah bashariah yang merupakan ujian dan cobaan bagi yang melihatnya. Sebagaimana kisah Musa yang melihat bashariahnya Haidir yang menjadi hijab utama bagi Musa as. Dan ia terbentur oleh bashariahnya hamba Allah SWT yang shaleh.

Oleh karenanya cara menyiasatinya ialah jangan kalian terpedaya akan wilayah bashariah dan jangan terpesona dengan melihat wilayah khusus/ ruhaniahnya sehingga berhenti disitu.

 

_______________

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel