RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU, 06 April 2018/20 Rajab 1439H


Sabtu , 07 April 2018


RANGKUMAN KAJIAN MALAM SABTU (MASA)
Kitab Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Atha'illah As-Sakandari)
Pesantren Akmaliah Salafiah 
Jum'at, 06 April 2018/20 Rajab 1439H

_______________

Tdak dapat diketahui tentang nilai nur yang ada dalam hati setiap hamba-Nya karena itu menjadi rahasia kecuali bisa diketahui di alam malakut.  Sebagaimana pula matahari, bulan, bintang tidak akan diketahui cahayanya kecuali di alam dunia (mulk) ini. 

Rahasia yang ada di dalam diri sebagai rahasia kita dengan tuhan. Tidak harus diungkapkan dalam bentuk apapun kecuali dalam bentuk akhlaqul karimah. Oleh karenanya selalu Bapak jelaskan bahwa orang orang yang sampai pada hakekat Islam, Iman, Ihsan akan muncul padanya akhlaqul karimah. Akhlaqul karimah itulah target dari Rasulullah SAW sebagaimana hadis :
Aku dibangkitkan untuk menempitnkan aklaq gang mulia.

Disini diterangkan rahasia cahaya di dalam hati yaitu iman yang tidak akan diketahui kecuali dalam alam malakut/alam nafsaniah/mitsal yang juga disebut alam batiniah, alam malaikat. 

“Terasa lezatnya dari hasil ketaatanmu yaitu ketika kalian hidup di dunia itu sebagai bukti khabar gembira atas gambaran gambaran yang istimewa terhadap orang orang yang beramal yaitu dengan wujud nilai pahala yang disebut kontan termasuk pula di akhirat kelak” (Hikam nomor 254)

Lezat nikmatnya amal ibadah juga disebut buah dari amal ibadah itu sendiri. Jadi jangan dulu kalian mengharapkan yang aneh aneh. Pahala yang istimewa ialah saat kalian menikmati amal ibadah itu. 

Kisah perjalanan kekasih Allah SWT :
- Para aulia terdahulu termasuk Syeikh Abdul Qodir Jaelani bahkan ada yang mengatakan bahwa ia menikmati ibadah setelah 25 tahun istiqomah. 
- Bapak baru merasakan nikmat ibadah setelah berproses selama 10-15 tahun. Waktu dalam proses tersebut masih ada rasa kantuk padahal Bapak sudah dalam maqom dan derajat khusus saat itu.
- Rasulullah SAW baru menikmati lezatnya shalat saat masa di Madinah hingga ia bengkak bengkak kakinya. 
Hadis riwayat Muslim :
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW melakukan solat malam hingga kakinya bengkak. Melihat hal ini Siti ‘Aisyah merasa hairan, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ibadah sedemikian rupa padahal engkau telah dijanjikan oleh Allah SWT dengan pengampunan atas segala dosa-dosamu baik yang lalu mahupun yang sekarang?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak pantaskah aku menjadi hamba-Nya yang bersyukur?”

Bagaimana bisa menikmati lezatnya ibadah jika tidak istiqomah dalam ibadah? Lezatnya ibadah muncul karena adanya cinta sedangkan cinta ada jika diistiqomahkan. 

Kisah perjalanan Bapak :
Saat dibawah tahun 1987 Bapak dalam proses maqom tertentu dimana Bapak “mabok”nya benar benar tidak merasakan sakit sedikitpun walaupun dihujat. Terbesit tersinggung saja tidak. Pada masa itupun Bapak banyak mengumbar karomah pada murid murid dan juga jika ada salikin yang baru bermaksiat akan Bapak tuding langsunng. Berbeda dengan sekarang dimana Bapak sudah mempunyai kode etik ruhaniah yang tidak akan membongkar sekali pun salikin itu habis berbuat maksiat. 

Jangan malu datang ke taklim jika kalian telah bermaksiat. Jika kalian hadir setelah bermaksiat kalian sama saja seperti mandi ruhaniah karena dengan hadir di taklim sama saja dengan mandi ruhaniah yang membersihkan dosa dosa kalian. Namun, yang harus diingat ialah bahwa seperti halnya baju jika dipakai cuci sering sering maka akan lebih cepat rusaknya ketimbang orang yang menjaga bajunya agar tetap bersih. 

Untuk menikmati kelezatan ibadah tidak sesederhana yang dibayangkan padahal baru shalat wajib dan shalat malam baru seminggu sekali (baru minimal). Namun Jangan pula meletakkan ibadah dalam posisi qona’ah. Qona’ah hanya boleh dilakukan saat menerima ketetapan 4 perkara. Sifat tamak yang dianjurkan ialah ilmu dan amal, selain itu tidak boleh tamak. 

Hadis : 
Man qona’ah istaghna - barang siapa yang qona’ah maka diberikan kekayaan batin oleh Allah SWT 

Maksud hadis tersebut ialah menerima konsekueski takdir dari Allah SWT dalam hal 4 perkara yaitu rizki, batas umur, amal perbuatan, hidup menderita atau bahagia. Yang berarti kita harus qona’ah dan ridho atas qodho Allah SWT yang akhirnya terkait dengan hadis qudsi : 

“Sesungguhnya Aku ini Allah, tiada ilah selain Aku, barangsiapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku serta “tidak ridho terhadap keputusan-Ku”, maka hendaklah ia keluar dari kolong langit (Bumi) dan cari Tuhan selain Aku”.

Anak-anakku semuanya,
Jadikan medsos untuk menularkan kebaikan bukan untuk menularkan ghibah atau keburukan. Jika kalian menghujat/curhat/ghibah orang lain di medsos, masa selama postingaan itu ada maka selama itu dosa kalian mengalir selama postingn itu belum dihapus dan selama itu pula yang dighibah/dihujat dosanya berkurang. 

Kelezatan dan kenikatan ibadah itu tidak serta merta kalian dapatkan melainkan harus berproses dengan mengistiqomahkan ibadah. Jika kalian sudah menikmati ibadah maka itu pertanda bahwa ibdah kalian sudah diterima oleh Allah SWT. Makanan ruhaniah ialah ibadah dan minumannya ialah ilmu. Keduanya itulah yang untik menutrisi wilayah ruhaniah kalian/jasad barzaki kalian. 

Analogi :
Di dalam menutrisi jasmaniah apabila kalian bisa menikmati makan maka makanan itu akan menjadikan tubuh kalian sehat. Makanan apapun yang tidak dinikmati maka tidak akan menyehatkan melainkan hanya untuk menahan kebutuhan yang pokok-pokok saja. Menikmati makan disunnahkan memperbanyak mengunyah minimal 22x kunyah. Kenapa? Karena semua inti sari peresap ada didalam mulut. Sama halnya seperti ludah. Ludah itu banyak manfaatnya, oleh karenanya jangan sering meludah. Rasulullah SAW pun nyaris tidak pernah meludah. Ludah adalah salah satu terapi untuk tubuh yang di dalamnya banyak energi untuk menetralkan. 

Makanan yang dinikmati itulah yang akan membuat tubuh sehat. Berbeda dengan makanan yang tidak dinikmati tidak akan menutrisi dan membuat sehat. Begitu juga ibadah dimana ibadah adalah makanan ruhaniah. Jika ibadah dalam kondisi terpaksa maka tidak akan menutrisi kalian melainkan hanya sekedar menyelesaikam kewajiban saja.

Nikmat lezatnya ibadah tidak instant melainkan butuh proses yang harus diistiqomahkan. Disamping harus diistiqomahkan ibadahannya juga harus ada ilmunya untuk mencapai khusyu’. Ilmu saja tidak akan dapat khusyu dan shalat saja pun tidak akan dapat khusyu. Ilmu ada nur dan amalpun nur. Maka beruntunglah orang yang mendapatkan keduanya. 

Maka dengan amal dan ilmu ia akan menikmati kelezatan ibadah seabgai buahnya amal ibadah yang akhirnya ibadah kalian tidak terpaksa (sebagai hamba) melainkan menjadi orang yang merdeka. Jadikan amal ibadah sebagai kebutuhan bukan sebagai kewajiban. Kewajiban ini dalam hal syariat yang harus diamalkan. Namun bagi penekanan diri jadikan ibadah sebagai kebutuhan. Namun jangan dijadikan ibadah sebagai kewajiban karena akan terasa beban. Melainkan jadikan ibadah itu kebutuhan sehingga akan menjadi hobi.

Jika sudah menikmati ibadah maka itu tanda Allah SWT sudah menyukai dan mencintai apa yang kita lakukan yang berarti menerima amal ibadah kita. 
_______________

Dirangkum oleh : Himmah Hizboel