Narasi

TAKABUR ALIAS SOMBONG

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 22 April 2018/06 Sya’ban 1439 Hijriyah


“Takabur adalah salah satu sifat madzmummah yng ada dalam diri manusia dan Allah tidak akan mentolerir orang orang yang bersifat takabur, bahkan jika di antara kamu menemui orang yang sedang bertakabur, maka kamu boleh mentakaburinya dengan tujuan untuk meruntuhkan sifat takabur pada orang tersebut”. 

Anak-anakku sekalian,
Mari kita bersma-sama untuk intropeksi ke dalam diri kita, terutama penyakit yang ada dalam hati kita, jiwa kita, karena pada hakekatnya setiap manusia mempunyai penyakit fahsah. Penyakit fahsah ialah penyakit yang ada di dalam jiwa/hati kita. (Yang merupakan) salah satu sifat yang mazmumah, yang tercela, penyakit hati ialah sifat TAKABUR atau SOMBONG. Takabur atau sombong adalah sifat yang sangat buruk dan sangat tercela. Perlu kita ingat bahwa Allah SWT menjelaskan di dalam Al Qur’an yaitu peristiwa nabiyullah Adam as dengan malaikat Azazil. Yang harus diketahui dan digarisbawahi ialah munculnya takabur pada malaikat Azazil. Pada saat itu malaikat Azazil ialah hamba Allah SWT. Dalam sebuah tarikh dijelaskan bahwasanya (malaikat Azazil adalah) hamba Allah SWT yang patuh dan taat bahkan mendapatkan julukan yang sangat istimewa seperti dijuluki SYAKIRIN, SYAJIDIN dan lain sebagainya. Itulah malaikat Azazil yang telah mengabdi kepada Allah SWT (selama) 120.000 tahun lamanya. Terakhir ia menjadi Khozinatul Jannah yaitu bendaharawan surga. Setelah Nabi Adam as bangkis dan mewujud dalam wujud manusia seutuhnya, Allah SWT memberikan ilmu, Allah SWT memberikan pelajaran sebagaimana dalam QS. Al Baqarah ayat 31:

‎وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Allah SWT memberikan pelajaran nama-nama seluruh yang ada di surga sampai malaikat terpesona. Kemudian Allah SWT berfirman kepada seluruh malaikat sebagaimana yang tercantum di dalam Al-Qur’an QS. Al-Baqarah ayat 34:

‎وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Ingatlah tatkala Allah SWT berfiman kepada seluruh malaikat bersujudlah kepada Adam as. Semuanya sujud kecuali iblis, kenapa? Dia takabur, enggan dan golongan orang orang yang ingkar. Murka Allah SWT langsung turun dalam sebuah riwayat disebutkan malaikat Azazil langsung dicabut kemulyaannya dan disematkan dengan kata/kalimat/nama yang baru ialah iblis laknatullah, na’udzubillahi min dzalik. 

Anak-anakku semuanya,
Yang harus kita ambil pelajaran disini ialah tentang takabur dimana takabur itu sangat amat berbahaya. Kita tidak terbayang hidup dizaman sekarang, andai saja hukum Allah SWT disamakan dengan hukum saat nabiyullah Adam as, tidak terbayang berapa banyak (bahkan) jutaan orang yang menjadi iblis atau syaitan atau mungkin tidak mendapatkan ampunan dari Allah SWT. Sebagai contoh ialah Azazil yang jelas jelas telah mendapatkan nama nama julukan yang mulia dimana ia telah mengabdi kepada Allah SWT dengan pengabdian yang luar biasa (selama) 120.000 tahun lamanya namun hanya dengan satu perintah ditolak langsung turun menjadi iblis laknatullah. Tidak terbayang jika dizaman sekarang, di zaman kita berapa banyak orang yang takabur, berapa banyak orang yang sombong.

Anak-anakku semuanya,
Mari kita berdoa semoga kita golongan orang orang yang dilepaskan dari penyakit takabur.

Ujub Alias Narsis

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 15 April 2018/28 Rajab 1439 Hijriyah


“Ujub alias Narsis adalah salah satu sifat nafsu lawwamah yang disebut pula sebagai nafsu madzmummah (tercela atau fahsya). Tanpa disadari, banyak orang yang kesehariannya berkata dan bertingkah laku ujub. Ini akibat minimnya pengetahuan agama terutama pengetahuan ilmu tauhid dan hakekat”.

Anak-anakku semuanya,
Salah satu dari penyakit hati yang juga berbahaya di dalam diri kita ialah UJUB. Apa itu ujub? Terkadang banyak orang memaknakan ujub itu nyaris disamakan dengan sombong. Padahal ujub itu bukan sombong, ujub itu ajib yakni orang yang keheran-heranan dengan dirinya sendiri tanpa mengembalikan kepada Allah SWT. Mungkin kalau dalam bahasa yang sederhana disebut NARSIS. 

Jadi, ujub itu bisa disebut narsis. Namun narsis bagi orang yang tidak tau tentang ilmu tauhid dan hakekat dimana orang tersebut tidak mengembalikan semuanya kepada Allah SWT. Kita semua adalah manusia yang mendapatkan nikmat dan anugerah dari Allah SWT. Nikmat dan anugerah dari Allah SWT itu berlimpah ke dalam diri kita. Nikmat sehat, nikmat cantik bagi wanita, nikmat gagah bagi laki laki, nikmat harta kekayaan bahkan nikmat kecerdasan pikiran. Kalau kita simpulkan sebenarnya nikmat itu ada dalam diri kita, nikmat dalam bentuk intelektual kita, nikmat dalam bentuk psikologis/kejiwaan kita, nikmat dalam bentuk keagamaan kita yaitu spiritual kita. Namun apabila nikmat nikmat yang sampai ke dalam diri kita tidak dikembalikan kepada SWT dan hanya sebatas ke dalam diri kita itu yang disebut ujub. Jadi, UJUB ialah orang orang yang narsis, merasa dirinya cantik, merasa dirinyaganteng, merasa dirinya pintar dan tidak mengembalikan kepada Allah SWT. 

Terkadang masyarakat tidak sadar disebarkan virus ujub sebagai contoh yang sempat viral di masyarakat ialah kalimat yang sedehana seperti kalimat canda namun sesungguhnya kalimat itu menanamkan ujub seperti saat orang dipuji dan disanjung dengan kalimat “kamu pintar ya, anaknya siapa dulu dong?” itu sebenarnya menanamkan ujub namun masyarakat tidak merasa. Ini yang khawatirkan apabila kita tidak cerdik dan paham tentang ilmu yang sesungguhnya, tentang kajian kajian tauhid. Orang yang baik dan benar dalam menata hidupnya ialah orang yang mampu mengembalikan kepada Allah SWT. Pada saat dipuji ia mengembalikan kepada Allah SWT dengan kalimat “alhamdulillah”. Begitu pula pada saat kita menerima penderitaan, kitapun berlindung kepada Allah SWT karena hakekatnya kita harus mampu mengembalikan kepada Allah SWT dengan baik dan benar agar terlepas dari penyakit ujub yang menghijabi seseorang untuk melihat kebesaran dan anugerah yang berlimpah pada diri seseorang dan pada diri kita utamanya. 

Apabila kita melihat tentang berbagai macam kenikmatan yang ada dalam diri kita kemudian tidak mengembalikan kepada Allah SWT dan hanya pada diri, contoh orang yang usaha dan ikhtiarnya sukses, bisnisnya sukses, lalu dia menyatakan (kesuksesan) ini karena usaha dan ikhtiarku/kepiawaian dalam mengelola bisnis, persis seperti perkataan Qorun pada jaman dulu. Begitu juga orang yang pintar, orang yang sukses dalam menjabat satu jabatan tertentu dimana ia merasa karena perjuangannya yang tiada pernah henti dan banyak lagi. Kalau tidak hati hati dikembalikan kepada Allah SWT akhirnya menjadi penyakit ujub dan kalau sudah menjadi penyakit ujub maka akan membias ke akhlaq, membias ke etika, yang akhirnya orang itu tidak akan peduli dengan penderitaan orang lain dan tidak peduli dengan kehidupan sosial terlebih lagi menolong orang lain/ terlebih lagi membantu orang lain. Susah rasanya untuk menjangkau semacam itu karena sudah terkontaminasi hidup dengan penyakit ujub. 

Semoga kita termasuk golongan orang orang yang terpelihara oleh Allah SWT dari penyakit ujub.

Hakikat Isra' Mi'raj

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Sabtu, 14 April 2018/27 Rajab 1439 Hijriyah 


“Hakikat Isra' Mi'raj ialah kembali kepada perjalanan hidup kita di dunia yang gelap gulita dan hanya dengan Nur Allah kita bisa mendapat penerang untuk berjalan menuju kepada Allah. Dunia itu gelap dan yang memberi cahaya penerang itu hanya Allah, mintalah pada Allah ilmu sebagai obor perjalanan agar tidak tersesat di jalan”.

Anak-anakku sekalian,
Bulan ini adalah bulan rajab, salah satu diantara empat bulan yang disucikan Allah SWT ialah Rajab dan yang paling istimwa lagi di dalam bulan Rajab ternyata ada peritiwa spektauler dalam keistimewaan tersebut Allah SWT memperjalankan hamba-Nya dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha. Kemudian Allah SWT mengangkat dan menarik/menaikkan dengan istilah Mikraj. Beliau sampai ke sidratul muntaha bahkan samapai ke ‘arsy Allah/ke singgasana Allah SWT/ke mahligai Allah SWT. 

Anak-anakku semuanya,
Peristiwa yang spektakuler ini tercermin di dalam firman Allah SWT QS. Al Isra ayat 1 :

‎سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Anak-anakku semuanya,
Peristiwa spektakuler yang tercermin di dalam firman Allah SWT bahwa Allah SWT memperjalankan hamba-Nya di malam hari, di sana di terangkan yakni “لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى” pada malam hari dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha. Kemudian Allah SWT memberkahi/memberi keberhakan di sekelilingnya sepanjang perjalanan bahkan Allah SWT pun memperlihatkan tanda tanda kebesaran-Nya. Karena memang Dia, Allah SWT, Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Peristiwa spektakuler ini banyak orang yang menceritakan sesuai caranya yang dengan persepsinya atau latar belakangnya. Ada yang terkadang seperti mendongeng, ada yang secara ilmiah, ada yang dengan berbagai macam cara dimana ia akan mengaplikasikannya dengan mengambil hikmah hikmah. Terlepas dari itu semua, saat itu Beliau sedang dirundung kesedihan karena ditinggalkan kekasih kekasihnya yang mendukung perjuangannya.

Anak-anakku semuanya,
Kita tidak akan membahas perjalanan Isra’ Mikrajnya namun bagaimana kita mengapllikasikan Isra’ Mikraj itu di dalam kehidupan sehari hari.

Anak-anakku semuanya,
Kita ini (adalah) seorang pejalan menuju kepada Allah SWT dimana kita hidup di dunia. Pecayalah bahwa pernyataan “dunia itu zulmah” yakni GELAP. Allah SWT memperjalankan hamba-Nya dimalam hari sama dengan kita juga sedang diperjalannkan Allah SWT dimalam hari yakni dikegelapan duniawiyah. Kegelapan dunia begitu banyak orang yang tersesat karena gelapnya dunia tetapi andai saja ada orang yang mau berjalan diatas titian ilahi robby yang dikehendaki perjalanannya dari masjidi Haram ke masjidil Aqsha yang berarti berjalan dari rumah Allah SWT. Sementara disebut baitullah di dalam diri kita ialah hati kita. Qolbu mukmin baitullah - Hati orang mukmin itu rumah Allah SWT. 

Kemudian dari hati kita turun dan jalan terus merambah sampai ke suku-suku bahkan disebut dengan 7 (tujuh) anggota sujud atau boleh disebut dengan istilah panca indra, seluruh organ tubuh kita. Maka perjalanan dari rumah Allah SWT sampai ke seluruh organ tubuh kita menjadi cermin kehidupan yang istimewa yang penuh dengan keberkahan dimana akhlaqul karimah muncul pada diri orang tersebut karena ia melihat tanda-tanda kebesaran Allah SWT di dalam dirinya. Tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang pailng istimewa ialah diri kita, organ tubuh kita, kesehatan kita, semua yang ada dalam tubuh kita termasuk akal kita. Kita harus mensyukurinya dimana semua itu adalah anugerah dari Allah SWT yang harus kita jaga dengan baik dan benar karena itu juga amanat dari Allah SWT. Betapa nikmat Allah SWT begitu besar di dalam diri kita. 

Hadis Qudsi :

‎كُنْتُ كَنْزًا مُخْفِيًّا فَأَحْبَبْتُ اَنْ اُعْرِفَ فَخَلَقْتُ   الْخَلْقَ    فَبِي    يَعْرِفُنِي

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, karena Aku suka dikenal, maka Aku ciptakan mahluk, maka dengan-Ku ia mengenal-Ku”.

Allah SWT menciptakan kita dengan rasa suka dan cinta untuk dikenal sementara kita di dunia ini tugasnya ialah mengenal sang pencipta. Maka untuk mengenal sang pencipta berarti kita berjalan menuju kepada-Nya. Perjalanan kita menuju kepada Allah SWT di dunia ini sama dengan perjalanan kita di malam hari karena dunia itu gelap bahkan di dalam hadis lain disebutkan dunia itu laknat, siapapun yang ada di dunia ikut terlaknat kecuali bagi barang siapa yang ada di jalan Allah SWT. Begitu pula firman Allah SWT menjelaskan sangat detail sekali bahwa dunia itu perhiasan dan semua orang sangat cinta dan suka dengan dunia tetapi Allah SWT menjelaskan bahwa itu hanya kehidupan dunia belaka dan hanya kepada Allah SWT itulah kembali yang paling baik. 

‎زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran ayat 14)

Oleh karenanya dalam hikmah isra mikraj itu jadikan bahwa kita hidup di dunia yang gelap gulita, kita berjalan dengan nur Allah SWT yakni hidayah Allah SWT yang berarti berpijak pada al-Quran dan al Hadis, Insya Allah kita selamat. Namun jangan abaikan Ijma dan qiyas sebagai orang orang ahlus sunnah wal jama’ah. Semoga hikmah Isra’ Mikraj dapat dijadikan pegangan perjalanan hidup kita menuju kepada Allah SWT.

Hasud alias Dengki

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 08 April 2018/21 Rajab 1439 Hijriyah 


“Hasud adalah salah satu dari sekian banyak sifat yang tercela dalam diri manusia yang dapat menghanguskan semua amal ibadahnya. Hasud alias dengki itu sifat nafsu Lawwamah atau nafsu syaitan, bila sifat hasud ada pada diri manusia maka orang itu sangat jahat dan dengki kepada setiap orang yang hendak berbuat baik, alias tidak suka melihat orang lain melakukan kebaikan dalam bentuk ibadah sosial maupun ritual dan sakral”.

Anak-anakku semuanya,
salah satu di antara penyakit di dalam diri kita, penyakit batiniah/ penyakit hati ialah HASUD. 

Hasud ini sangat amat berbahaya juga. Dimana hasud itu juga dijelaskan di dalam beberapa hadis yakni bahwa orang yang mempunyai hasud itu ibadahnya hangus oleh hasud (yang) diumpamakan seperti orang yang mencari kayu bakar dan akhirnya terbakar di jalan. 

HASUD, kebanyakan orang memaknakan sebatas iri dan dengki, itu sudah bagus dan benar tetapi jangan sebatas di permukaan itu dan dengki itu hanya pada wilayah tentang harta benda atau lainnya.  Secara umum seperti orang mengatakan kamu iri terbadap si a/si b, kamu iri karena ia kaya, kamu iri karena ia pintar, sebenarnya bukan itu yang dikehendaki hasud yang sesungguhnya.

Hakekat hasud ialah dimana orang selalu menghalang halangi kegiatan orang lain di dalam menuju kepada Allah SWT. Makanya Abu Lahab disebut orang yang paling hasud bahkan rajanya hasud termasuk istrinya sampai diabadikan di dalam Al Quran. 

Jadi, hasud itu ialah seseorang yang menghalangi ibadahnya orang lain baik ibadah ritual maupun sosial. Contoh ibadah ritual ialah seperti seorang istri yang menghalangi suaminya/mencegah suaminya untuk beribadah malam hari atau untuk melakukan shalat di masjid itu masuk dalam kategori hasud atau seorang istri (yang) cemberut dan tidak suka suaminya menolong orang lain, mengentaskan orang orang miskin, memperkerjakan orang orang terlantar yang tidak mempunyai pekerjaan. 
Intinya hasud ialah dimana orang itu mengalang-halangi ibadah orang lain, menghalang/halangi pengabdian orang lain terhadap Allah SWT. Oleh karena itu, kita disuruh berlindung dari orang orang yang hasud tatkala orang itu sedang melakukan kegiatan hasudnya. 

Ada orang mau berangkat ke pengajian kemudian teman yang lain mengatakan “lebih baik jalan atau pergi karena mengaji itu bisa setiap hari sedangkan bertemu dengan teman teman belum tentu satu tahun sekali” ini merupakan rayuan hasud atau mungkin juga mengatakan “lebih baik menghadari resepsi pernikahan daripada shalat malam atau mengaji”. Yang harus dipahami disini apabila ada dua persoalan yang bersamaan maka bijaklah untuk memilih dengan baik dan benar. Jika ingin selamat maka pilihlah agamamu, pilihlah karena Allah SWT, jangan memilih karena nafsu. Hasud itu banyak sekali jika kita urai dalam kehidupan sehari hari karena tidak sedikit teman menghasud temannya. Orang tua menghasud anaknya atau sebaliknya. Istri menghasud suami atau sebaliknya bahkan ada juga orang yang notabene sebagai “public figure” menghasud untuk membenci orang lain. Na’udzubillahi min dzalik.

Hindari diri kita dari penyakit hasud dan hindari diri kita tetular dari penyakit hasud karena penyakit itu sangat mudah menular. 

Wahai anak anakku semuanya,
Berdoalah semoga kita terhindar dari penyakit hasud tersebut.

Zhon, Sumber Penyakit Hati

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 01 April 2018/14 Rajab 1439 Hijriyah 


“Sumber penyakit hati ialah Zhon alias purbasangka, virus yang berbahaya di dalam hati akan berkembang menjadi tunas su-uzhon (sangka buruk) hingga menjadi penyakit hati lainnya yang dikategorikan Fahsya”. 

Anak-anakku semuanya,
Di dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan tentang hati dengan mengutip hadis bahwa di dalam diri manusia ada segumpal daging, apabila daging itu rusak maka rusaklah semua jasadnya. Begitu pula apabila daging itu baik maka semuanya baik, itulah hati. 

‎أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati” (HR. Bukhari  dan Muslim).

Anak-anakku semuanya,
Hati ini bukan sebatas segumpal daging yang ada di dalam diri kita tetapi lebih kepada rasa. Dimana hati itu diliputi berbagai macam rasa. Rasa yang mendasar yang akhirnya menjadi penyakit ialah zhon. Zhon itu yang disebut di dalam firman Allah SWT : 

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” (QS. Al-Hujurat ayat 12)

Sangka ini lawanan dari kepercayaan/iman. Rumah tangga, suami istri, apabila didalamnya sudah ada zhon maka tunggu kehancurannya. Begitu pula dalam sebuah organisasi akan runtuh organisasi itu, sistemnya tidak akan berjalan apabila anggotanya banyak terkena penyakit zhon. Bahkan dalam suatu negara apabila para aparatnya banyak zhon di antara satu dengan lainnya maka tunggu saat kehancurannya. Jadi, ini penyakit yang sangat berbahaya yang hanya bisa dinetralisir oleh iman. Percaya terhadap Allah SWT, terhadap nabi-Nya dan semua yang ada disekitarnya. Keperayaan itu sangat penting. Maka dari itu ditanamkan kepercayaan sejak 1400 tahun lebih yang lalu Allah SWT menyeru :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ 

“Wahai orang-orang yang beriman..” (contoh dalam QS. Ali Imran ayat 102)

Iman/percaya sangat penting antara satu dengan lainnya. Kepercayaan istri terhadap suami, kepercayaan anggota kepada ketuanya, kepercayaan masyarakat terhadap pejabat terutama presidennya sangat penting untuk membangun keharmonisan dalam hubungan. Jika tidak, maka yang ada adalah kericuhan karena zhon itu akan berkembang menjadi su-uzhon/sangka buruk. Kalau sudah sangka buruk maka akan berkembang pula berbagai macam penyakit-penyakit lain yang akan menyebabkan seseorang menjadi rusak hatinya. 

Anak-anakkh semuanya,
Yang harus kalian tengarai ialah sumber penyakit hati yang disebut zhon dimana agar kita terhindar daripada zhon itu sebaiknya tanamkan kepercayaan dan keyakinan di dalam diri kita teristimewa iman terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Beriman terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya harus dilakukan dan diejawantahkan dalam kehidupan sebari hari seperti di dalam pengabdian terhadap Allah SWT yaitu ibadah dan berbuat baik pada siapapun termasuk mahluk yang namanya manusia dalam hubungan antara satu dengan lainnya. Dengan kepercayaan itulah hubungan terjalin dengan baik. Jika tidak, maka akan rusak hubungan itu. 

Anak-anakku semuanya,
Cankam baik baik dan tanamkan baik baik tentang kepercayaan. Biasakan dalam diri kita untuk percaya pada siapapun. Jangan kita membiarkan zhon mengalir mewarnai hidup kita. 

Semoga kita golongan orang orang yang selalu mendapatkan karunia kepercayaan dalam diri.

Nafsu dalam Diri Manusia

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 25 Maret 2018/07 Rajab 1439 Hijriyah 


“Nafsu yang ada dalam diri manusia antara lain ; Ammaroh, Lawwamah, Sawwalat, Sawwiyah, Mutmainnah, Rodhiyah dan Mardhiyah. sifat-sifat nafsu tersebut terbagi menjadi dua, Madzmumah dan Mahmudah”.

Anak-anakku semuanya,
Mari kita intropeksi kembali ke dalam diri kita, muhasabah, bahwa kita ini adalah manusia yang diciptakan Allah SWT disebut “fii ahsani takwim” yaitu sebaik-baik kejadian. 

Manusia juga mempunyai berbagai macam unsur dalam percintaannya yang disebut “min sulalah min tin” yakni dari saripati tanah. Kalau disimpulkan unsurnya ialah api, angin, air dan tanah. Itulah yang akhirnya melekat yang menjadi jiwa dalam bahasa arab (ialah) nafsu dalam diri manusia. Di dalam kitab kitab tasawuf dijelaskan tentang nafsu-nafsu tersebut. Potensi nafsu itulah yang mewujud dalam diri manusia menjadi sifat seperti nafsu binatang, Imam Ghazali menjelaskan ada nafsu “bahimiyah” dan “sabu’iyah” yaitu nafsu binatang ternak dan binatang buas. Ada lagi nafsu syaithoinyah, adalagi nafsu sawwalats yang disebut nafsu thogut atau iblis. Ada juga nafsu yang disebut nafsu sawwiyah/mulhimah, atau shofiyah yang disebut nafsu malaikat. Kemudian ada nafsu yang sejati ning diri manusia ialah nafsu mutmainah. Kemudian diatasnya lagi ada yang disebut nafsu rodhiyah dan mardhiyah. Itulah nafsu nafsu yang ada pada diri manusia yaitu ada 7 nafsu manusia. 

Anak-anakku semuanya,
Di dalam diri manusia ada sifat-sifat dari nafsu itu, sebagai contoh nafsu binatang maka potensi kebinatangannya muncul pada diri manusia. Nafsu syaitan, potensi kesyaitanannya itu ada di dalam diri manusia. Oleh karena itu renungkan baik baik dan pelajari baik baik.

‎وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz Dzariyat ayat 21)

Yang paling berbahaya dalam diri manusia ialah nafsu syaitaniah dan nafsu sawwalats yaitu yang sifatnya itu berbagai macam sifat-sifat yang disebut mazmumah/sifat tecela seperti sifat syirik, hasud, takabur, naminah, ghibah dan berbagai macam sifat-sifat tercela yang disebut di dalam Al-Qur’an dengan istilah fahsya. Dan itulah yang dikehendaki dengan target shalat :

‎إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut ayat 45).

Sesungguhnya shalat dapat mencegah perbuatan yang keji yaitu yang ada di dalam diri dan kemungkaran yang ada di luar diri, yang lahiriah. 

Jadi fahsya ini adalah penyakit hati, penyakit jiwa yang sangat berbahaya dan  tidak akan mengenal pengabdian ibadah terhadap Allah SWT. Padahal kita lahir dan diturunkan ke muka bumi ini oleh Allah SWT untuk menjadi khalifah/pemimpin dimana pemimpin itu bisa mengatur dan menata sistem, minimal (sistem) yang ada di dalam diri kita.

Anak-anakku semuanya, 
Renungkanlah baik baik dalam hal ini. Jangan sampai kita terjebak oleh nafsu kita dengan berbagai macam ajakan dan bisikan yang ada di dalam diri kita. Hindari bisikan bisikan dan ajakan ajakan yang menjurus kepada degradesi moral atau kemaksiatan kemaksiatan yang menjanjikan kenikmatan. Terkadang nafsu itu menanggap bahwa syaitan pembawa laknat itu dianggap sebagai malaikat pembawa rahmat. Padahal tidak seperti itu. Sebagai contoh orang berbuat maksiat dianggap kenikmatan dan rahmat padahal itu syaitan pembawa laknat. 

Anak-anakku semuanya,
Camkan baik-baik!
Semoga kita termasuk orang orang yang selalu mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Syirik, Menyekutukan Allah

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 18 Maret 2018/30 Jumadits Tsani 1439 Hijriyah


“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (mempersekutukan sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh jauhnya (An-Nisaa ayat 116)”.

Anak-anakku semuanya,
Akidah yang paling berbahaya di dalam diri kita ialah akidah syirik. Syirik itu (artinya) menduakan Allah SWT. Arti menduakan Allah SWT ialah dimana seseorang menyembah sesuatu selain daripada Allah SWT. Syirik ialah lawanan daripada tauhid. Orang yang bertauhid tentunya tidak syirik. Dalam hal ini terutama dalam pengertian ilmu tauhid dan hakekat bahwa syirik itu terbagi dua. Ada yang disebut SYIRIK JALI dan adapula yang disebut SYIRIK KHOFI’. Syirik jali ialah syirik yang nyata, yang kelihatan. Contohnya seperti orang menyembah berhala, menyembah benda benda yang dianggap benda itu keramat. Itulah syirik yang kelihatan, yang nyata, yang bisa kita lihat. Terkadang bagi orang Islam yang tidak paham ialah syirik KHOFI (yaitu) syirik yang samar, yang tersembunyi, yang halus, yang ada di dalam diri kita ialah akidah. Apabila kita mengabdi kepada sesuatu selain Allah SWT bsa juga dikategorikan syirik. Kalau di dalam kitab kitab tasawuf kitab kitab tauhid, syirik itu ialah anggapan seseorang menyakini bahwa ada perbuatan yang keluar dari mahluk dan dikembalikan kepada mahluk, itu (lah) yang disebut syirik. Contohnya ialah apabila kita tahu ada orang pintar dan kita terpesona dengan orang pintar itu seolah-olah kepinteran orang itu muncul dari orang itu sendiri dan kita tidak ingat mengembalikan kepada Allah SWT bahwa itu anugerah dari Allah SWT. Itu yang menyebabkan akidahnya seseorang syirik yang akhirnya bisa jadi muncul pengkultusan atau ketakjuban kepada orang tersebut tidak mengembalikan kepada Allah SWT sementara di dalam akidah harus kita meyakini
 “innalillahi wa inna illaihi roji’un” sesungguhnya kami ini semua daripada Allah SWT dan kembali kepada Allah SWT. 

Memang syirik ini sangat halus sangat lembut dan apabila sudah berbicara syirik ini berbahaya sekali karena menyangkut akidah keimanan. Renungkan baik baik wahana anak anakku semuanya.  Firman Allah menyatakan  : 

‎إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ 

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa’ ayat 48)

Dengan kata lain (syirik) tidak ada ampunananya dan tidak ada taubatnya. 

Memang syirik itu tidak untuk ditaubati melainkan direvolusi akidahnya karena syirik terkait dengan paradigma hidup. Jadi, untuk syirik bukan taubat melainkan merevolusi akidah yang ada di dalam diri, paradigma hidup kita, pandangan hidup kita bahwa hanya Allah SWT yang Esa. Tidak ada seumpamanya. Allah SWT yang Maha Besar, Allah SWT yang Maha Kuasa. Tidak ada selainnya. Andaipun ada di dunia ini keistimewaan (maka) harus dikembalikan kepada Allah SWT, itu yang harus dilakukan. 

Untuk merevolusi tentunya harus belajar ilmu tauhid dan hakekat. Jika tidak mengetahui dan mempelajari serta memahami apalagi mengamalkan ilmu tauhid dan hakekat yang dikhawatirkan seperti Imam Ghazali  (yang) menyatakan banyak orang orang yang mengekali dosa yaitu dosa syirik.

Semoga kita golongan orang orang yang dilepaskan dari akidah syirik menjadi akidah yang muwahid.

Sabar

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 11 Maret 2018/23 Jumadits Tsani 1439 Hijriyah


Anak-anakku semuanya, 
Kata sabar itu banyak orang yang belum faham sesungguhnya karena banyak sekali orang memahami sabar itu diam. Sabar kalau dicaci maki diam, kemudian difitnah diam dan semuanya diam. Baiklah, mungkin itu adalah sebagiannya benar namun tidak secara utuh menurut islam karena sabar menurut islam itu aktif sifatnya sebagai contoh salah satu firman Allah SWT yang mejelaskan tentang sabar dalam QS. Ali Imran ayat 200 :

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Wahai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan bersungguh sungguhlah kamu dalam bersabar atau saling sabar menyabarkan di antara kamu. Namun harus tetap waspada. Setelah wasapada, bertakwalah kamu kepada Allah SWT niscaya kamu golongan orang orang yang menang, yang beruntung.

Berarti dengan kata lain disini bahwa sabar itu harus aktif, sebagai contoh dalam kehidupan. Hidup ini perjuangan. Disetiap perjuangan pasti akan menemui reskio ujian dan cobaan sedangkan ujian dan cobaan datang silih berganti, tidak selamanya baik namun banyak juga yang buruk karena memang Allah SWT telah menjelaskan :

‎وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiya ayat 35)

Di dalam ujian dan cobaan itu contoh yang sangat sederhana ialah sabarnya orang bodoh tentu saja ia harus rajin menuntut ilmu supaya menjadi orang pinter. Sabarnya orang miskin harus giat bekerja agar menjadi orang kaya. Sabarnya orang kaya harus rela membagikan sebagian hartanya di jalan Allah SWT karena memang wajib itu zakat infaq, zakat harta. Begitu juga sabarnya orang sakit dia harus berusaha berikhtiar untuk keluar dari sakitnya hingga sembuh. Sabarnya orang sehat harus bisa menjaga kesehatan itu. Sabarnya orang pinter harus berbagi ilmu dengan orang yang bodoh. Dengan demikian itulah disebut sabar yang sesungguhnya. 

Anak-anakku semuanya,
Jadi, sabar ini memang susah kecuali bagi orang orang yang selalu mesra dengan tuhannya. Ini merupaka isyarat dalam firman Allah SWT QS. Al Baqarah ayat 45 :

‎وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu',

Saya memaknakan khusyu ini mesra. Jadi, orang orang yang mesra dengan tuhannya itu bisa bersabar dalam menghadapi situasi dan kondisi apapun terutama menghadapi hidup di dalam perjuangan karena hidup itu memang perjuangan. Di dalam perjuangan ada ujian dan cobaan. Bagi barang siapa yang ingin hidup harus berani berjuang dan menerima resiko ujian dan cobaan. Yang tidak mau menerima resiko ujian dan cobaan, jangan berjuang. Kalau sudah tidak mau berjuang, berarti jangan hidup.

Berarti sabar itu ialah perjuangan kita di dalam hidup dan sekaligus menerima resiko apapun yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita. Tetap istiqomah.

Semoga kita golongan orang yang diberikan kekuatan oleh Allah SWT, hidayah oleh Allah SWT ialah sabar yang meliputi sifat sifat hidup kita.

ANUGERAH

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 04 Maret 2018/16 Jumadits Tsani 1439 Hijriyah


Anak-anakku semuanya,
Anugerah Allah SWT ialah berlimpah pada diri kita.
JIka kita tidak mampu memahami atau husnuzhon bahwa Allah SWT itu bersifat rahman, percayalah bahwa Allah SWT melimpahkan berbagai macam anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan caranya Allah SWT, bukan dengan cara kita.
Allah SWT memberikan sesuatu kepada hamba-hamba-Nya sesuai kebutuhan hamba hamba-Nya, bukan sesuai keinginan nafsu hamba itu sendiri.

Anak-anakku semuanya,
Seperti contoh yang paling sederhana anugerah yang Allah SWT limpahkan kepada hamba-Nya ialah ampunan, terbukanya pintu taubat untuk setiap hamba hamba-Nya yang telah berlaku maksiat.
Ada pernyataan yang menyatakan bahwa kemaksiatan yang mewarisi tawadhu pada diri seseorang itu lebih baik, lebih utama ketimbang beribadah yang mewarisi kesombongan dan takabur.
Kalimat ini dimaksud ialah bahwa orang orang yang bermaksiat itu ada satu penyesalan yang begitu luar biasa di dalam diri sehingga akhirnya ia merasa rendah hati dan bersungkur kehadapan Allah SWT dengan taubatan nasuha, merasa diri paling hina, paling banyak dosa, sehingga ia tidak  berani menengadahkan dengan membusungkan dada.
Berbeda lagi orang orang yang ibadah merasa diri paling suci, merasa diri paling pinter, paling shaleh sehingga “nyinyir” terhadap orang orang yang tidak ibadah sehingga menghibah terhadap orang orang yang tidak ibadah sementara ghibah itu disebutkan dalam hadis :

‎الْغِيْبَةُ أَشَدُّ مِنَ الزِّنَا

Ghibah itu dosanya lebih besar daripada berbuat zina (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Anak-anakku semuanya,
Anugerah Allah SWT yang berlimpah pada diri kita itu sangat banyak sekali.
NIkmat nikmat yang berlimpah pada diri kita, perhatikan baik baik mulai dari yang ada dalam diri kita ialah kesehatan organ tubuh kita, pandangan mata, pendengaran, penglihatan dan lain sebagainya banyak sekali.
Begitu juga fasilitas yang ada di muka bumi ini sampai Allah SWT menyatakan :

‎يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. (QS. Al-Baqarah: 168)

makan dan minumlah apa saja yang ada dimuka bumi ini dengan halal dan baik aturan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah dan rasul-Nya.
Jika nikmat Allah SWT mau dihitung niscaya kita tidak bisa menghitungnya.
Oleh karennya Allah SWT sampai menegur terhadap orang yang tidak ingat terhadap nikmat Allah SWT :

‎فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Semuanya berlimpah nikmat itu.

Anak-anakku semuanya,
Jadi jelas anugerah yang paling istimewa dalam diri kita ialah hidayah dalam bentuk nikmat iman dan islam.

Anak-anakku semuanya,
Nikmat Iman dan Islam itu anugerah yang besar yang akan membawa diri kita menjadi orang orang yang baik, orang orang yang mendapatkan anugerah kenikmatan dunia dan akhirat, selamat dari malapetaka dunia dan akhirat. Betapa nistanya orang yang dicabut nikmat Iman dan Islamnya, akan menderita di dunia maupun di akhirat. Hidupnya terlunta lunta, tidak mempunyai pegangan.Banyak orang yang tersesat di jalan yang terang.

NARASI CINTA

Oleh : CM. Hizboel Wathony
Minggu, 25 February 2018/8 Jumadits Tsani 1439 Hijriyah


Anak-anaku semuanya,
Cinta adalah anugerah yang diletakkan oleh Allah SWT di dalam hati setiap hamba-hamba-Nya.
Dan cinta itu membias ke seluruh organ tubuh kita bahkan dengan cinta semua itu berlaku, dengan cinta hidup itu berjalan dengan damai. 

Allah SWT meciptakan alam semesta juga dengan cinta, begitu juga kita memelihara, merawat semua keluarga kita, anak-anak kita, dengan cinta.

Namun cinta yang sesungguhnya ialah cinta yang Hakiki yang diberikan oleh Allah SWT. Cinta yang sejati ialah cinta yang bersifat memberi dan berkorban bukan meminta dan menuntut. Cinta yang meminta dan menuntut itu nafsu sifatnya bukan cinta. 

Oleh karenanya, barang siapa yang ingin dicintai Allah SWT maka jangan sekali kali mencintai selain diri-Nya dan begitu juga barang siapa yang ingin dicintai sahabatnya, saudaranya, teman-temannya, maka jangan engkau mengharapkan sesuatu yang ada padanya. 
Hadapilah cinta dan rasakanlah cinta dengan hati yang jernih. 

Anak-anakku semuanya,
Cinta yang mengalir ke dalam diri kita ialah cinta yang hakiki bahkan apabila kita mencintai sesuatu atas dasar memilihara amanah dan anugerah Allah SWT maka cintanya benar benar karena Allah SWT. 

Oleh karena itu, cinta yang karena Allah SWT ialah cinta yang mengalir dengan jernih, tidak akan ada kekeruhan yang diwarnai oleh nafsu. 

Cinta yang hakiki dimana seseorang mencintai sesuatu benar benar karena Allah SWT. 
Mencintai keluarga karena Allah SWT, mencintai suami karena Allah SWT, mencintai istri karena Allah SWT, mencintai teman karena Allah SWT, semuanya karena Allah SWT. 

Jadi, orang yang mencintai Allah SWT dan rasul-Nya bukan berarti mengabaikan keluarga, anak, istri dan juga bukan mengabaikan teman, pergaulan sosial, hubungan dan lain sebagainya, justru bertambah erat hubungannya, bertambah mencintai keluarga apabila ia mencintai Allah SWT dan rasul-Nya. 

Oleh karenanya Rasulullah SAW menyatakan “belum disebut kamu orang yang beriman sebelum kamu mencintaku melebihi daripada cintamu terhadap keluarga yaitu orangtua atau anak-anak bahkan kepada seluruh manusi”
Jadi, jelas bahwa cinta itu memang yang selalu berkorban, yang selalu memberi. 

Jika ada dua orang yang saling mencintai berarti ia akan saling memberi, saling berkorban.
Begitu juga banyak orang mencintai saling memberi saling berkorban, bukan saling meminta dan menuntut. 
Jadi jelas sekali hadis yang menyatakan : 

‎لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

"Belum disebut kamu orang yang beriman sebelum kamu mencintai saudaramu sebagaimana engkau mencintai dirimu sendiri"

Anak-anakku semuanya,
Dengan cinta, kita bahagia 
Dengan cinta, kita sejahtera
Dengan cinta, hidup semarak, damai dan sentosa

Apabila ada orang menyatakan dengan cinta menderita itu bukan cinta hakekatnya melainkan nafsu yang mewarnai cinta. 

Mungkin juga boleh disebut cinta yang kamuflase atau lebih ekstrem lagi nafsu yang mendominasi cinta atau nafsu yang menyatakan dirinya cinta padahal tidak ada cinta di dalamnya karena cinta tidak akan menguasasi dan memliki tapi lebih kepada memelihara, menjaga, memberi dan berkorban untuk yang dicinta.

Semoga kita golongan orang orang yang mendapatkan anugerah cinta yang murni dari Allah SWT.



Video




© Pesantren Akmaliah Salafiah 2018

All rights reserved